Yakin Lu Gak Mau Kerja Lagi?

Categories Fiction

“Ci! Yakin lu gak mau kerja lagi?” seru perempuan muda di depanku. Wajahnya tirus dengan sederet gigi rapi dan putih berkilau. Rambutnya panjang kecoklatan. Wajahnya dipoles make up yang pas banget. Gak menor. Gak polos. Gak lupa bulu mata ekstension rapi bertengger menghias matanya yang lancip seperti mata kucing.

 

Shelly perempuan muda ini jarang datang ke sekolah. Tapi begitu Mbak Retno – Class Mom TK B mengajak kumpul saling kenal untuk semua ibu sekalian arisan, dia yang pertama memastikan diri datang. Lengkap dengan keceriaannya yang tak terkalahkan di antara semua ibu-ibu TK.

Photo by @mrshananto

 

“Ci Lili! Ah rindu!” perempuan muda lain menyapaku. Yang satu ini Anita – mantan atlet nasional bulutangkis. Selalu terlihat fit. Masih rajin olahraga. Entah bagaimana caranya harus bersaing soal kebugaran tubuh dengan seorang mantan atlet nasional. Anita mengenakan tank top hitam dan celana jeans ketat. Lengannya yang berotot memang pantas dipamerkan. Pakai baju apa saja badan Anita selalu pas. Cuma rambutnya aja yang selalu bikin Shelly gemas ingin mendandani. Anita selalu tampil dengan kuncir buntut kuda.

 

“Lu jarang ke sekolah sih An?” tanyaku ramah pada Anita. Putranya – Alweyn – adalah sahabat karib anakku Jason. Sebagai anak baru, Jason langsung nyambung dengan Alweyn. Keluarga kami baru pindah ke Jakarta dari Medan. Suamiku yang ahli urologi mendapatkan pekerjaan bergabung dengan tim cangkok ginjal di Jakarta. Aku mengikut suami. Duh ini sungguh sebuah peran baru yang aku belum ngerti betul. Tapi urusan antar jemput anak jadi tugas utamaku. Dan aku merasa baru banget untuk tugas yang satu ini. Bukan soal menyetir mobilnya. Tapi soal berinteraksi dengan ibu-ibu TK ini.

 

“Lagi sibuk ngelatih Ci. Mau Sea Games kan bentar lagi. Gua dipanggil buat bantuin Ci Iing!” jawab Anita.

“Nah kan Ci Anita aja balik kerja lagi. Ci Lili juga dong. Gimana Ci, lu beneran gak mau kerja lagi?” Shelly masih mantap dengan satu topik itu saja. Seolah ia sedang dalam misi menghabisi semua spesies ibu rumah tangga!

 

Shelly, Anita dan aku adalah tiga ibu yang pertama hadir di arisan ibu-ibu TK B hari ini. Masih ada 19 ibu-ibu lain yang harusnya hadir.

“Ibu-ibu lain pada ke mana ya? Jem berapa ini? Kok belum pada datang. Popo juga tadi WA mau datang kok.” Anita meragukan suasana cafe yang sangat sepi.

“Popo itu yang mana ya? Gua belum hapal.” Tanyaku pada Anita.

“Popo itu neneknya Calvin yang badannya gede banget Ci. Yang jagoan renang.” Anita adalah salah satu ibu TK andalan. Dia hapal nama semua ibu dan anak bahkan kenal nenek dan nanny setiap anak di kelas Jason.

“Gua nih Ci, sebulan bisa dapat Rp100 juta lho. Ya gak tiap bulan sih. Sekali-sekali kalo lagi rame banget.” Shelly seperti biasa datang dengan energi berlebih. Termasuk tanpa malu memamerkan pencapaian pekerjaannya.

“Seratus juta Shel? Dari jualan asuransi bisa segitu?” Anita basa basi membalas percakapan.

“Iya Ci! Gua tuh musti rajin ketemu orang jadinya. Gak bisa duduk-duduk aja. Tapi seru lho…”

 

Aku semakin geli. Shelly seperti lupa kalau Anita ini pernah jadi juara di mana-mana. Rp100 juta memang bukan penghasilan rutin Anita. Tapi aku ingat betul, karena jadi juara bulutangkis, Anita pun pernah membintangi beberapa iklan. Jadi kalau hanya berpendapatan Rp100 juta sih cincay! Tapi Shelly tidak memerhatikan lawan bicaranya. Shelly butuh menunjukkan siapa dirinya.

 

“Untuk bisa sampai ke titik ini, gua harus kuliah lagi lho. Untung laki gua kasih lampu hijau. Jadi waktu hamil Jemima dan Jeremy udah 1 taon. Gua boleh kuliah lagi. Pas kuliah S2 itu gua ketemu banyak teman baru. Ada juga yang kerja di kantor gua sekarang. Jadi kuliah itu penting banget!” Shelly terus bicara tentang dirinya sendiri.

 

“Lu orang pada lulusan mana?” Shelly perlu banget nanya kayak gini. Anita kelihatan sedikit manyun. Maklum, dia atlet dan gak sempat kuliah. Kalau urusannya soal kuliah, Anita suka minder. Seolah prestasinya menang berbagai turnamen terhapus dari catatan dunia. Anita berupaya menghindari pertanyaan Shelly dengan memanggil pelayan agar bisa memesan capucinno. Terpaksa aku harus menjawab.

 

“Gua lulusan kedokteran. Di USU Medan.” Jawabku pelan seolah berusaha tidak terdengar oleh Anita. Tentu saja Anita yang duduk di sebelahku mendengar jawabanku lah.

“Serius elu dokter Ci?” Anita menoleh ke arahku terbelalak.

“Haha. Iya sekolahnya lama. Kerja praktik lama. Habis itu gua kerja lama. Makanya gua udah tua gini anak baru TK.”

“Ah lu gak tua-tua amat Ci!” Anita tertawa. Ia berhasil meminta seorang pelayan untuk memesan capucinno buat kami bertiga. Lalu menambahkan dengan muka serius, “Aku juga tua kok. Jadi atlet gak bisa langsung nikah dan hamil. Banyak ditahan dulu karena periode jadi juara itu terbatas.”

“Umur 42 dengan anak masih TK? Tua lah!” Aku tertawa sendiri.

“Spesialis apa?” Shelly belum selesai dengan interogasinya.

“Dokter umum aja.” Jawabku sambil terus tersenyum.

Wajah Shelly seperti kecewa. Dokter kok cuma dokter umum sih?

 

***

 

“Kak Rita! Pasien di bilik tiga sudah muntah lagi!”

“Macam mana ini! Pemabuk!” Rita Butar-Butar – perawat paling senior di ruangan itu mengerlingkan matanya. Lalu dengan cekatan ia menangkap Irwan – perawat laki-laki yang paling junior untuk pergi membersihkan bekas muntah. Aku tertawa geli. Aku selalu suka cara Rita mengalihkan pekerjaan yang menyebalkan dengan cantik.

 

Tapi keceriaanku harus segera terhenti.

“Dokter Lili! Kecelakaan 2 mobil bertabrakan dengan truk semen! Ambulans sudah dalam perjalanan!” Inong yang bertugas hari itu di meja tengah setengah berteriak sambil meletakkan telpon.

 

“Dokter Ari! Dokter Hilda! Dokter Phaidon! Lu orang siap ya!” seruku pada ketiga dokter muda yang turut berjaga hari itu.

Ketiga dokter terlihat tegang. Aku mengangguk pada mereka agar mereka lebih tenang berhadapan dengan badai yang akan segera menerjang tempat kerja kami. Mereka sudah punya pengalaman yang cukup. Aku bisa meninggalkan Medan dengan tenang. Ternyata puncak prestasi itu baru betul terasa saat berhasil  menurunkan ilmu pada orang-orang hebat di sekelilingku. Aku bangga sekali pada ketiga dokter muda ini.

 

7 menit kemudian ambulans yang dimaksud datang dengan 7 orang korban kecelakaan lalu lintas. 2 di antaranya anak-anak. Pemandangan sekitar seketika berubah. Semua orang terlihat sibuk dan tidak ada lagi yang main-main atau bercanda. CODE BLACK!

 

“Inong telpon ke atas. Minta back up! Rita siapkan transfusi darah.”

Aku segera berseru kepada kedua perawat senior andalanku.

Hand over dengan paramedis terlihat mulus. Tapi sebentar lagi kami pasti kewalahan. Mana back up-nya nih.

 

Ketiga dokter sudah bergerak dengan cekatan.

“Pipa ETT* 7,5!”

“Tekanan karbondioksida darah 60. Tekanan oksigen darah 55.”

“Dia kekurangan oksigen. Perlu krikotiroidotomi!”

 

Aku membetulkan jas putih simbol status kedokteran itu. Membelai stetoskop yang sudah bertengger seharian di leherku. Memakai sarung tangan. Lalu melangkah masuk ke area yang sekarang menjadi triage bagi korban kecelakaan. Aku akan merindukan ketegangan ini.

Just another day at the office!

 

***

 

“Sudah cukup.”Akhirnya aku menjawab lagi setelah Shelly menanyakan, lagi, untuk ketiga kalinya, apakah aku mau kembali bekerja. Shelly seperti butuh pengakuan kalau ia, sebagai perempuan bekerja, ada di puncak kesuksesan yang sesungguhnya. “Sekarang gua mau di rumah aja Shel. Gak mau kerja lagi.” Tambahku sambil terus tersenyum.

 

“Tapi Ci! Lu kan dokteeeer! Pindah dari Medan ke Serpong gini mah pasti banyak kerjaan buat luuu!” Shelly masih terus berusaha memastikan aku  kembali bekerja.

 

“Shel. Gua pernah jadi kepala Instalasi Gawat Darurat di Rumah Sakit Umum di Medan. Hampir semua kasus sudah gua temui. Istri dipukuli. Anak muda OD. Tangan putus. Orang ketembak. Sebagai seorang dokter, gua merasa sudah cukup. Sekarang gua cuma mau urus anak gua aja.”

 

“KEPALA IGD???” Shelly terbelalak.

“DI MEDAN PULA! HAHAHAHAHAHAH!” Anita tertawa terbahak-bahak. Menyebabkan ibu-ibu lain yang baru datang tertarik untuk bertanya apa penyebab tawanya yang membahana sampai ujung cafe.

ER, George Clooney, Eriq La Salle, Sherry Stringfield, Anthony Edwards, (Season 1), 1994-2009. © NBC / Courtesy Everett Collection – From hollywoodreporter.com

 

 

 

 

Sejak itu – di pertemuan-pertemuan ibu TK lainnya – Shelly tidak pernah lagi membahas tentang hebatnya perempuan bekerja di depanku.

Entah kenapa.

 

***

Hasil dari kombinasi nongkrong dengan ibu-ibu sekolahan dan kebanyakan nonton serial drama medis ER, The Night Shift, Code Black dan Chicago Med.

 

To my ladies at school.

Whatever your choice in life, I hope it is the life you choose.

I wish you happiness!

 

PS. Kalau ada yang mau benerin istilah kedokterannya, atau logat Medannya, colek gue ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *