Saat Pelukis Menjadi Pencatat Sejarah

Categories Art Gallery

BERSEJARAH!

Itu yang terlintas di kepala saya kalau bertemu kata-kata “Istana Negara”.

Gedung megah ini bukan hanya jadi simbol kedaulatan negara kita, ternyata Istana Negara juga menyimpan banyak koleksi barang seni yang sarat sejarah.

Koleksi Istana Negara
Koleksi Istana Negara

 

 

Beruntung sekali lho kita karena Istana Negara tahun ini menggelar beberapa koleksi seni bersejarah yang maha penting, dalam rangka Hari Kemerdekaan RI yang ke-71. Koleksi seni bersejarah ini bisa kamu temukan di Galeri Nasional (seberang Stasiun Gambir, Jakarta Pusat).

 

Saya dan  Mas Bebeb mengkhususkan diri untuk cuti dan berduaan seharian. Dalam daftar nge-date kami hari ini ada makan enak, ngopi seru, naik commuter line, naik bajaj (maunya jalan, tapi banyak ketemu gerimis) dan tentu saja berkunjung ke Galeri Nasional.

My date today!
My date today!

Untuk datang ke sana, sebaiknya jangan weekend ya! Kata Pak Satpam yang menjaga, kalau weekend antrian bisa berjam-jam. Kami mendaftarkan diri dulu, lalu masuk lewat pintu depan. Seorang pemandu memberikan briefing dulu tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama viewing koleksi Istana ini.

 

Ada banyak sekali lukisan-lukisan indah yang terpampang dalam pameran kali ini. Pusat perhatian tentu saja ada pada lukisan termasyhur karya Raden Saleh : “Penangkapan Pangeran Diponegoro“. Lukisan ini dibuat di masa Pangeran Diponegoro! Itu lho pangeran Kerajaan Mataram yang memberontak pada Belanda dan waktu SD dulu, Perang Diponegoro ini hanya kita hapalkan terjadi di tahun 1825-1830!

"Penangkapan Pangeran Diponegoro"
“Penangkapan Pangeran Diponegoro”

 

Sebelumnya, saya sudah pernah melihat lukisan yang ditaksir senilai Rp600.000.000.000 ini. (Coba baca ada berapa nol di belakang angka 6! Itu bacanya enam ratus milyar!) Beberapa tahun lalu saya dan Mas Bebeb mengajak Mas, Kakak dan Ade melihat pameran khusus lukisan karya Raden Saleh, termasuk lukisan juwara ini.

 

Ada yang spesial dari lukisan ini. Ternyata ada lukisan tandingan! Karya pelukis Belanda yang kurang lebih menggambarkan bagaimana Pangeran Diponegoro ‘menyerahkan diri’. Wuih! Beda banget lho lukisannya. Dalam karya Raden Saleh, Pangeran Diponegoro digambarkan ngambek dan gagah berani. Sementara lukisan Belanda menunjukkan Pangeran Diponegoro yang pasrah tak berdaya! Jadi pelukis di masa itu memang benar-benar menjadi story teller! Orang yang mencatatkan sejarah dan menceritakannya kembali pada kita 186 tahun kemudian!

Apakah ini cameo Raden Saleh?
Apakah ini cameo Raden Saleh?

 

Hal menarik lain adalah suprise yang diselipkan Raden Saleh pada lukisannya. Konon ia suka melakukan cameo! Jadi dalam beberapa lukisan Raden Saleh, ada dirinya sendiri, digambarkan sebagai saksi sejarah! Tebakan saya, ini adalah Raden Saleh lho. Perhatikan detil sorban, beskap, hingga kainnya. Lukisan yang satu ini memang pantas disebut sebagai juwara dari seluruh lukisan yang sedang di pamerkan.

 

Karya lain yang gak kalah penting adalah “Memanah“. Benda-benda seni Istana Negara adalah peninggalan Presiden Soekarno. Semua koleksi beliau sangatlah banyak, gak muat dalam 1 pameran! Karya seni yang mengawali semua koleksi ini adalah lukisan “Memanah”. Ceritanya Bung Karno bertemu Hank Ngantung tahun 1944. Bung Karno berniat membeli lukisan ini, tetapi belum selesai karena tidak ada model tangan. Bung Karno pun langsung bersedia menjadi model tangan dalam lukisan ini!

"Memanah"
“Memanah”

Kalau Raden Saleh menjadi saksi sejarah dalam lukisan “Penangkapan Pangeran Diponegoro” ; lukisan “Memanah” ini sendiri justru yang menjadi saksi sejarah kemerdekaan Republik Indonesia. Tidak banyak yang menyadari kalau lukisan ini tergantung di rumah Jl. Pegangsaan Timur dan menyaksikan semua proses proklamasi! Lukisan ini menjadi backdrop saat Soekarno-Hatta melakukan konferensi pers pertama mengumumkan kemerdekaan negeri kita!

Masih banyak cerita penting dari lukisan “Memanah”. Bapak Hank Ngantung adalah pernah menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Bapak ini juga terkait dengan Lekra sehingga mengalami masa kurang enak di periode Orde Baru.

 

Lukisan lain yang menggugah saya adalah sketch mural karya Lee Man Fong. Lee Man Fong adalah pelukis kelahiran Guang Zhou, Cina. Ia bermigrasi ke Singapura sebelum kemudian terpesona oleh keindahan Bali dan pindah ke Indonesia. Lee Man Fong menjadi pelukis Istana Negara di masa Bung Karno. Sketch mural ini adalah oret-oret Lee Man Fong yang kemudian menjadi mural di Hotel Indonesia tahun 1960an. Saya jadi penasaran apakah mural ini masih ada, atau sudah dihancurkan saat renovasi Hotel Indonesia.

Lee Man Fong Mural
Lee Man Fong Mural

 

Terakhir yang gak kalah mempesona adalah lukisan Bapak Bangsa, Haji Oemar Said Tjokroaminoto. Ini karya Affandi – si jenius asal Jogja. Sudah lah Affandi memang maestro sejati. Saya begitu terpukau melihat lukisan ini. Kok bisa coret sana sini hasilnya kayak gini sih??? Lihat bagaimana Pak Tjokro digambarkan mengenakan beskap dan bersarung batik. Sementara background-nya samar-samar terlihat ‘rakyat jelata’ yang selalu ia bela.

HOS Tjokroaminoto
HOS Tjokroaminoto

Affandi adalah seorang jenius. Tapi saya pikir ada jenius yang lebih besar, yaitu Presiden Soekarno!

Bagaimana bisa, di masa negeri kita morat marit dan serba terbatas, orang-orang ini begitu cultured! Beruntung sekali kita tinggal menikmat hasil berkarya dan berkoleksi ini 71 tahun kemudian!

 

Beberapa lukisan indah lain bisa kamu lihat di akun Instagram saya: @mrshananto.

Selebihnya, segera ke Galeri Nasional ya. Pameran koleksi bersejarah Istana Merdeka masih ada sampai 30 Agustus 2016.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *