Post #8 – Rumah Soekarno, Lari di Pantai dan Makan Enak Setiap Hari di Bengkulu

Categories Diary, Personal, Restaurants, Running, Travel + Work

Post No. 8 in the #writingchallenge.

 

Ada apa di Bengkulu? Di sana ada rumah Soekarno, bisa lari di pantai dan makan enak setiap hari!

 

Setiap kali kunjungan ke luar kota saya punya 3 pertanyaan.

  • Lari di mana?
  • Makan apa?
  • Apa yang seru?

 

Pertanyaan ini pun saya lemparkan lewat akun Twitter @mrshananto. Dengan begitu saya punya ancer-ancer apa yang bisa saya lakukan di lokasi baru. Apalagi kalau tidak ada pemandu lokal – wah harus menyiapkan segala sesuatunya sendiri.

 

Beruntung kunjungan saya kali ini bersama Bekraf juga menghadirkan Ibu Dewi Coryati – Anggota DPR RI Komisi X yang asli Bengkulu. Ibu Dewi beserta timnya tidak membiarkan kami melongo sendirian. Saya pun sangat menikmati arahan tim Ibu Dewi selama berada di Bengkulu.

 

Rumah Soekarno

Masih ingat film Soekarno? Film itu sukses menunjukkan sisi manusia dari Presiden RI ke-1 Soekarno.

 

Bung Karno saat masih bernama Kusno – menikahi seorang perempuan dari tanah Sunda bernama Inggit. Selama masa perjuangan di Bandung, Bung Karno pun ditangkap Belanda dan dipenjarakan di Sukamiskin. Inggit lah yang membantu meneruskan perjuangan. Lalu akhirnya Belanda memutuskan mengasingkan Soekarno ke Bengkulu – Inggit beserta anak angkat dan kerabatnya, turut serta ikut ke Bengkulu.

 

Rumah tempat Soekarno-Inggit tinggal di Bengkulu, di periode 1938-1942 masih terawat hingga sekarang. Situs sejarah ini sungguh luput dari ingatan banyak orang. Kok bisa ya kita gak kenal dengan peninggalan sejarah sepenting ini?

 

Gara-gara film Soekarno saja lah saya jadi ingat kalau Bengkulu dulu menjadi saksi sejarah perjalanan hidup Presiden RI ke-1. Maka begitu mendarat, hal pertama yang saya minta pada pengemudi yang menjemput kami adalah, “Bang tolong bawa saya ke rumah Soekarno!”

 

Alih-alih membawa kami ke rumah Soekarno, pengemudi mengantar kami ke… rumah Fatmawati. Nah! Jadi ceritanya, Pak Soekarno bertemu dengan Ibu Fatmawati di Bengkulu! Rumah pertama yang kami kunjungi adalah rumah orang tua Ibu Fatmawati. Bu Fat perempuan kelahiran Bengkulu inilah yang kemudian dinikahi Bung Karno dan juga adalah ibu dari Presiden RI ke-? Ibu Megawati Soekarnoputri.

 

 

Rumah ini adalah rumah panggung terbuat dari kayu, rumah khas Bengkulu. Di bagian depannya terdapat teras tempat menerima tamu. Bagian depan rumah adalah ruang duduk dan ada dua ruang tidur di kiri kanan rumah. Di rumah ini ada foto-foto Ibu Fatmawati sebagai ibu negara. Termasuk pertemuan beliau dengan Eleanor Roosevelt – ibu negara dari Amerika Serikat di masa itu. Salah satu benda sejarah yang juga ditampilkan di rumah ini adalah mesin jahit yang konon digunakan Ibu Fatmawati menjahit Sang Saka Merah Putih.

 

Seorang pemandu mengarahkan kami untuk berjalan satu blok menuju rumah Soekarno yang sesungguhnya. Jadi ternyata Ibu Fatmawati tinggal sangat dekat dengan rumah Soekarno-Inggit!

 

Rumah kedua yang kami kunjungi berbeda bentuk dengan rumah keluarga Ibu Fatmawati. Rumah inilah rumah yang ditempati Soekarno-Inggit dalam pengasingan.

 

Rumah ini awalnya digunakan residen Inggris, kemudian menjadi milik seorang saudagar Cina. Pihak Belanda menyewa rumah ini agar dapat ditempati oleh Soekarno-Inggit. Itu menjadi penjelasan mengapa rumah tersebut bergaya Eropa, dihiasi ornamen Oriental, namun dengan pagar khas Melayu.

 

Selama tinggal di Bengkulu, Bung Karno tetap berkegiatan. Peninggalan Bung Karno terpelihara dan dapat kita lihat di seluruh bagian rumah. Mulai dari sepeda yang digunakan setiap hari, ruang kerja tempat Bung Karno membaca, menulis dan mendesain bangunan, hingga koleksi pakaian teater Monte Carlo binaan Bung Karno dan Inggit.

 

Masuk ke dalam rumah ini saya merasakan suasana yang grandeur. Presiden pertama kita, sang proklamator, pernah tinggal dan berkegiatan di sini!

 

Lari di pantai!

Di Jakarta, jalur lari saya adalah area sekitar rumah atau area sekitar kantor. Malas sering menghinggapi karena suasana lari yang gak asyik. Kalau terlambat dikit aja, saya harus balapan dengan motor dan bajaj. Jadi saat sedang dinar luar kota, saya selalu mengupayakan bisa lari pagi. Kota lain cenderung punya kondisi udara yang lebih bagus daripada Jakarta. Saya pun selalu ketagihan menikmati suasana lari yang berbeda.

 

Khusus untuk Bengkulu, jawaban follower saya di Twitter untuk jalur lari adalah: lari di pantai dong! Wah ini menarik sekali. Google map menunjukkan kalau Bengkulu adalah propinsi yang langsung berbatasan dengan Samudera Hindia. Jadi ada garis pantai yang panjang dari perbatasan Sumatera Barat di Utara sampai perbatasan Jambi di Selatan.

 

Gayung bersambut, Ibu Dewi Coryati ternyata doyan jalan pagi! Kami diajak siap di lobi pukul 5 pagi! Oh My God! Saya senang sekali! Kami berangkat naik mobil dari Hotel Santika menuju pantai yang jaraknya hanya 3km. Kami mulai jalan dari Pantai Pasir Putih hingga

 

 

Makan enak setiap hari!

Selesai lari, mobil yang mengantar kami belok ke Pasar. Lokasi pasar ini persis di sebelah Benteng Marlborough peninggalan Inggris. Target operasi kami adalah warung si uni langganan Ibu Dewi. Menu sarapan yang hiets banget: lontong sayur tunjang! Slurp!

 

Makanan enak lainnya di Bengkulu ini tentu saja menu seafood yang diolah khas ala Sumatera. Berbagai menu ikan, udang, cumi tersedia di resto-resto paling top di Bengkulu. Dua resto yang sempat kami kunjungi adalah Inga Raya dan Marola. Semua makanan di situ ENAK BUANGET! Salah satu makanan yang menurut saya agak beda adalah tempoyak udang. Ada semilir rasa duren bercampur renyahnya udang. Aneh tapi enak.

 

Masih banyak cerita asyik dari Bengkulu.

Semoga bisa kesampaian suatu hari ajak anak-anak berkunjung ke rumah Soekarno, lari pagi di pantai dan makan enak setiap hari.

 

Dear Bengkulu,

Kamu asyik banget! Jauh lebih asyik dari ekspektasi saya saat mendarat di Bandara Fatmawati Soekarno.

***

PS. Photo menyusul ya. Belum dipindah dari kamera.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *