Mengapa Memilih Merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW? – Post #116

Categories Diary, Personal, Spiritual

Apakah kamu memilih merayakan hari kelahiran Rasulullah Nabi Besar Muhammad SAW?

Memilih? Emang ini pilihan ya?

 

From Pixabay

Seorang bijak yang saya sangat hormati pernah mengingatkan saya tentang ini.

“Tidak ada paksaan dalam beragama”

 

Saat itu beliau tidak menyebutkan itu asalnya dari mana. Belakangan saya menemukan ini adalah petikan ayat suci Al Quran. Silakan ya cari sendiri.

 

Artinya saat ada orang yang meributkan tentang perayaan Maulid Nabi, baik pro maupun kontra, seharusnya kembali ke ayat tersebut. Tidak ada paksaan dalam beragama. Sehingga saya menggunakan kata ‘memilih’ merayakan Maulid Nabi.

 

Kenapa saya memilih merayakan kelahiran Nabi pujaan hati?

 

Pertama. INI RITUAL SEJAK KECIL.

Saya gak ingat kapan mulai merayakan Maulid. Ini udah seperti belajar sholat, puasa dan mengaji aja. Sebagai orang yang lahir dalam keluarga Muslim – yang bisa dicari leluhur Muslimnya sampai 15 generasi ke belakang dengan posisi leluhur di sekitar Cirebon-Kuningan – saya merasakan berbagai ritual Islam sebagai default kehidupan saya. Maulid adalah sesuatu yang setiap tahun, kami sekeluarga besar, dan sekarang saya turunkan pada anak-anak, upayakan selalu hadir dalam perayaannya. Saya selalu memastikan kalender bersih. Jangan sampai ada kegiatan lain.

Biasanya kami ke masjid. Ada sholat bersama. Barzanji. Lalu makan-makan! Spesial karena cuma setahun sekali. Gak ajaib karena udah biasa melakukan ini. Saya yakin perayaan-perayaan Maulid Nabi lain juga banyak yang mirip begini.

 

Kedua. GETARAN QALBU.

Saya merasakan sebuah energi luar biasa saat berkunjung ke Raudah dalam bagian dari perjalanan Haji tahun 2010. Sebelumya saya pernah mengunjungi Raudah di tahun 2000 saat umroh dengan orang tua. Saat itu saya ‘cuma’ merasa sangat kecil berdiri di depan makam Rasulullah. Tapi dalam perjalanan tahun2010 itu, getaran jiwa begitu deras. It was unbearable. Keesokan harinya saya mengulang kunjungan dan tanpa ampun getaran qalbu itu hadir lagi. Tidak mungkin menolak merayakan kelahiran manusia yang baru depan pusaranya saja saya sampai tidak bisa berkata-kata.

 

Ketiga. DALILNYA APA?

OK kalau harus menjelaskan dalil itu bukan bagian saya. Dari seorang ulama besar saya pernah mendengar menjelasan bahwa Maulid Nabi ini bid’ah hasanah. Jadi saat ada yang menyerang perayaan Maulid Nabi sebagai bid’ah saya tidak pernah tertarik – karena dari dulu juga saya sudah diterangkan kalau itu bid’ah hasanah.

 

Apa itu bid’ah hasanah? Silakan baca dari tautan ini dan simpulkan sendiri: Kriteria Bid’ah.

 

Untuk kamu yang membutuhkan dalil dan hukum dalam melakukan suatu ibadah seperti Maulid, silakan baca tautan berikut ini: Hukum Memperingati Maulid Nabi.

 

Dan untuk kamu yang tertarik pada sejarah Maulid Nabi ini ada telusuran menariknya: Sejarah Perayaan Maulid Nabi.

 

Ini semua hasil googling doang lho! Jangan langsung ditelan ya. Saya gak percaya pada belajar agama dari googling kok. Jadi silakan cek pada ulama dan syaikh masing-masing. Ulama saja biasa berbeda pendapat. Kita yang murid ya gak perlu ribut kan.

 

Apakah kamu ingin merayakan kelahiran Rasul Allah yang paling tinggi derajatnya? Itu pilihan. Saya memilih melantunkan shalawat dan bersyukur karena bisa turut merayakan kelahiran Rasulullah. Dulu saya merayakan karena lahir dalam lingkungan yang merayakan. Tetapi sekarang, dengan segenap kesadaran saya memilih merayakan.

 

 

Ya Rasul Salam Alaika.

Sholawatullah Alaika.

Alhamdulillah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *