Post #10 – Kekuatan Silaturahmi

Categories Diary, Personal

Post No. 10 in the #writingchallenge.

 

Pernahkah kamu mendengar tentang hebatnya kekuatan silaturahmi?

“Ngobrol tanpa agenda yuk.”

“Ngopi dong! Kapan?”

“Sini duduk sebelah aku.”

“Woy! Makan siang ke mana?”

 

Apapun awal dari obrolannya, ini menandakan hadirnya silaturahmi.

Hari ini saya belajar bahwa silaturahmi dapat membukakan pintu.

 

Dari dulu juga sudah tahu. Tapi prakteknya sungguh berbeda. Cara hidup masa kini tidak lagi membuat kita nyaman untuk berkunjung ke rumah orang. Rumah masa kini bahkan mulai berubah desain, tidak lagi memiliki ruang tamu. Tapi bentuk silaturahmi itu tidak perlu lagi selalu berbentuk kunjungan khusus ke rumah orang. Kita masih bisa kok praktik silaturahmi dalam cara lain.

 

Contohnya.

Saya sering menyisihkan waktu bertemu dengan beberap teman geng cewek demi ngobrol tanpa agenda atau atas nama secangkir kopi. Dari ngobrol-ngobrol itu, saya jadi tahu apa yang sedang dilakukan oleh sahabat saya. Memang sih sebagian besar sudah nongol di medsosnya. Sehingga gak ketemu pun kita bisa saling update. Tapi ngobrol langsung tetap terasa berbeda. Kadang saat mengkhususkan waktu bertemu itu, tanpa agenda khusus, malah bisa bertukar ilmu. Ada yang bercerita tentang trend skin care terbaru, ada yang membahas pentingnya punya etika dalam berbisnis atau sekadar informasi resto bebek terenak di Jakarta Selatan.

 

Perjalanan saya kali ini membawa saya ke Bengkulu. Saya sudah diberitahu, akan ada tamu khusus, anggota DPR RI yang akan hadir menjadi pengamat dalam kegiatan pelatihan BEKRAF kali ini. Tapi  yang membuat saya terkaget-kaget adalah cara ibu anggota DPR RI ini

 

Kenalan baru saya bernama Ibu drh. Hj. Dewi Coryati Msi. Ibu Dewi adalah Anggota DPR RI Komisi X yang mewakili 43.000 suara warga Bengkulu. Yang paling menarik dari Ibu Dewi adalah kekuatannya dalam menjalin silaturahmi.

 

Biasanya dalam segala kegiatan berhubungan dengan instansi negara, seorang pejabat atau petinggi akan datang, meresmikan, salam-salam lalu pulang! Selesai. Ibu Dewi punya cara yang berbeda. Sehari sebelum acara, Ibu Dewi meminta kami berkumpul dan menjelaskan rundwon. Ibu memberikan beberapa masukan tentang rundown tersebut. Bahkan memberikan kontribusi dalam bagian pembukaan dengan menghadirkan sanggar musik asal Bengkulu.

 

Keesokan harinya, Ibu Dewi mengajak kami jalan dan lari pagi di sepanjang Pantai Panjang. Kami sudah berkumpul di lobi hotel sejak pukul 5 pagi! Saya pikir habis itu Ibu akan datang ke pembukaan dan cusss cabut. Ternyata gak! Ibu meminta waktu tersendiri di awal pelatihan agar bisa berkenalan dengan para peserta! Ibu sendiri yang turut memimpin pembukaan dengan memukulkan dol (alat musik tabuhan khas Bengkulu) bersama Pak Fadjar Deputi Bekraf dan Pak Endang Kepala Perwakilan BI.

 

Tidak cukup sampai di situ. Di hari kedua Ibu kembali hadir dari pagi hingga sore. Ibu sendiri yang memimpin sesi umpan balik (feedback) bersama para peserta. Ibu juga yang memimpin peserta bernyanyi di akhir acara. Sehingga semua peserta terharu dan saling bersalaman saat acara bubar.

 

Apa hasil dari silaturahmi ini?

Tentu saja Ibu Dewi punya kepentingan. Ibu ‘memelihara’ hubungan baik dengan calon pemilihnya. Tapi itu hanya bonus. Karena akibat dari kemampuan Ibu Dewi membangun hubungan dengan orang banyak ini adalah koneksi baru yang membawa diri orang sekitarnya ke pintu-pintu kesempatan lain.

 

Dengan pihak Bank Indonesia, Ibu Dewi berdiskusi soal pelatihan tambahan agar para pegiat UKM Bengkulu mendapat sesi follow up. Di tengah sesi hari kedua, plt. Gubernur Bengkulu memberikan kejutan dengan hadir – demi bertemu Ibu Dewi. Karena perhatian Ibu juga, para pegiat UKM kreatif Bengkulu menyumbangkan meja seduh yang menyajikan kopi khas Bengkulu. Ibu Dewi juga mengusulkan terbentuknya ikatan alumni – yang tentu semakin memperkuat kekerabatan para peserta pelatihan. Sementara dengan saya, Ibu bercerita tentang komunitas guru yang dekat dengan dirinya – sebuah koneksi yang bukan kebetulan, karena kami pun di Quamma Project sedang menggali hubungan dengan para guru agar dapat menjalankan program Menjadi Jagoan Finansial [Lihat lebih lanjut tentang program berbasis sosial ini di www.quamma.org].

 

Kuncinya adalah soal ‘kehadiran’.

Silaturahmi bukan sekadar datang, salaman, pulang.

Silaturahmi adalah soal ‘kehadiran’. Ada bedanya kok bertemu orang yang sekadar setor muka dengan orang yang bersedia ‘hadir’ dan menyediakan waktunya untuk bicara dengan orang sekitar. Bicara bukan selalu tentang dirinya, tapi juga mendengarkan apa yang sedang menjadi perhatian lawan bicara. Dengan begitu, energi positif yang kita dapatkan adalah soal berbagi manfaat – bukan merasa dimanfaatkan.

 

Terima kasih Ibu Dewi Coryati. Kunjungan saya ke Bengkulu ini betul-betul berkesan. Semoga kita bisa terus bersama membangun tali silaturahmi dan saling berbagi manfaat untuk orang banyak.

 

Sekali lagi.

Jangan anggap remeh kekuatan silaturahmi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *