Halo, Namaku Kartini.

Categories Fiction

2687 TKC.

Ini nomor plat mobilku.

Lahir 2 Juni 1987 di Jakarta.

Tania Kartini Chandra.

Photo by @dondihananto.

 

 

Begitu nama panjangku. Mami sering memanggilku Tanneke. Aku dulu sebal dengan nama Kartini. Gak ada hubungannya sama sekali dengan identitas diriku. Kartini itu puteri Jawa. Sedangkan aku ini orang Kek. Satu lagi. Aku tidak lahir di bulan April! Kenapa pakai nama Kartini sih?

 

Dulu, saat kecil bersekolah di sekolah Katolik, yang isinya semua perempuan, teman-temanku pasti menertawakan nama tengahku. Roster pagi benar-benar menyiksa. Sementara teman-teman tertawa terbahak-bahak, Aulia, teman sebangkuku hanya tersenyum.

 

“Nenekku orang Solo. Mangkunegaran. Kartini itu nama yang dihormati dalam keluargaku. Kamu gak usah malu.”

 

Mengingat Aulia hari ini aku malu sendiri. Masa aku tidak bangga pada nama Kartini?

Suster Fransiska – guru wali kelas pun – selalu memulai kelas dengan ceramah pendek tentang siapa Kartini.

 

“Ibu Kita Kartini seperti dalam lagu memang puteri sejati. Beliau berpikir 100 tahun lebih maju dari jamannya.” Aku sampai hapal kata per kata dari Suster karena setiap hari diulanginya di depan kelas yang sedang menertawakan nama tengahku.

 

Maaf ya. Terdengar rasis memang. Tapi bisakah kamu bayangkan jika kau seorang Jawa Muslim dengan nama tengah Noi Keng? Gak Kan?

 

Noi Keng adalah nama profesorku saat studi di Singapura. Dia selalu jadi langit untuk bumiku. Sebagai WNI keturunan Tionghoa, aku senang sekali bertemu Noi Keng yang warga Singapura keturunan Indonesia. What are the odds to that?

 

Saat aku selalu ngotot bilang “Saya orang Indonesia tidak pakai keturunan!”, Noi Keng dengan bangga berkoar pada dunia bahwa neneknya adalah orang Semarang.  Kenapa ya aku gak bisa bangga soal keturunan apa kulit putih mulus dan mata sipit ini?

 

Soal keturunan ini aku belum berdamai. Tapi paling tidak untuk Kartini, aku sudah bisa berdamai.

 

“Ada lighter?” seorang laki-laki muda membuyarkan lamunanku.

Sore itu, hari Minggu yang slow banget. Aku memutuskan keluar dari comfort zone dan bertualang ke Jakarta Selatan. Seperti juga kebanyakan perempuan Jakarta yang belum menikah, aku masih tinggal dengan Mami Papi. Rumah yang kami tempati sejak aku lahir ada di area Meruya, Jakarta Barat.

 

Hari itu, aku iseng. Aku menyetir mobilku – yang STNKnya masih atas nama Papi, menuju Jaksel! Hasil stalking Instagram, aku menemukan sebuah kafe di Jalan Ciragil.

 

Jalan-jalan sekitar Jaksel ini betul-betul bikin gentar. Tanpa bantuan Googlemaps aku pasti nyasar. Aku sudah nongkrong di kafe kecil itu sejak pukul dua siang. Aku menghabiskan waktu membaca sebuah novel ditemani secangkir picollo.

Photo by @dondihananto.

 

Satu jam kemudian aku memutuskan merokok di luar. Lalu laki-laki muda ini, barangkali umurnya baru 18.

 

“Mbak, ada lighter?”

“Hah?”

Aku kaget dipanggil Mbak. Oh kalau di Jaksel semua jadi Mbak ya?

 

“Ada. Ada!” Aku mengulurkan tangan kananku dan menyalakan rokok yang menempel di bibirnya.

 

Tattoo-nya bagus Mbak!”

Tattoo anagram TKC melingkar di lenganku.

“Thanks. Ini inisial namaku. Saya Tania.” Aku mengulurkan tanganku lagi untuk berjabat tangan.

 

“Muhammad!” Jawab laki-laki muda itu. “Panggil saja Mo.”

 

Kami terdiam. Tukang es podeng lewat depan kafe sambil mendorong gerobaknya. Pemandangan seperti ini di Jakarta memang seru. Kafe hipster dan tukang es podeng!

 

“Pilkada kemarin pilih siapa Mbak?” Mo senyum-senyum.

“Hahaha. Harus banget bahas Pilkada ya?”

Kami pun terbahak bersama.

 

“Boleh tahu K-nya apa?”

“Nama tengahku. Saya kasih tahu kalau kamu bilang nama tengahmu apa!”
“Saya? Muhammad aja. Gak ada nama tengah. Selanjutnya nama Papa! JOKO SUDIBYO! Jawa banget ya! Jadi… to be fair… nama tengahku… ya JOKO! Hahaha!”

 

Mo tertawa lepas sambil memainkan rokok di ujung jarinya.

“Jadi K-nya apa?”

“Tebak!”

“Hmmm… Katherine? Kayla? Kendall?”

“Jenner kalik! Salah semua! K untuk Kar-ti-ni!”

“Oh ya?”

“Iya!”

“Tumben!”

“Memang jarang orang Cina namanya Kartini!” Aku tersenyum mengerti apa yang Mo maksudkan. “Bayangkan penderitaanku waktu SD”

Kami tertawa bersama lagi.

 

“Eh ada filmnya kan! Kartini. Dian Sastro yang main!”

“Iya! Sudah nonton? Dulu aku malu punya nama Kartini. Sekarang, aku pikir, ini doa Mamiku!”

 

“Ohya? Doa seperti apa?” Mo terlihat semakin nyaman ngobrol denganku.

“Pertama ini!” Aku mengibaskan rambutku. Dipotong pendek di bawah telinga dengan warna merah yang berkilau terkena sinar matahari.

 

“Kedua ini. Dan ini.”

Aku menunjukkan tattoo TKC tadi dan tattoo feather di pergelangan kakiku.

 

“Ketiga. Aku umur 30 tahun dan masih tinggal dengan Mami Papi!”

 

Aku tertawa renyah. Tapi kali ini Mo tidak ikut tertawa bersamaku.

 

“Bingung ya? Jadi gini. Kartini itu menulis di sekitar tahun 1900! Di masa itu perempuan Jawa hanya punya dua pilihan. Menikah. Atau mati!

Kalau kamu perempuan Jawa rakyat jelata, pilihan hidupmu adalah menikah atau mati kelaparan.”

Aku terdiam sambil menghembuskan asap rokok. Bergidik membayangkan pilihan hidup seperti itu.

 

“Kalau kamu perempuan Jawa priyayi, pilihan hidupmu pun cuma dua. Menikah atau dipingit hingga menikah! Dipingit itu dikurung. Seperti dimatikan dalam penjara rumahmu sendiri.

Kartini itu pemberontak! Ia menolak perempuan hanya boleh punya dua pilihan hidup seperti itu. Ia ingin terus belajar. Ia bahkan menulis saat dunianya hanya dalam pingitan. Dan ia membuat sekolah untuk perempuan.

 

Tapi akhirnya…

Ia tunduk pada bakti kepada orang tua. Bahkan ia menikah dengan pria yang sudah beristri.”

Aku melirik ke arah Mo. Ia ternyata menyimak dengan khidmat.

 

“Aku juga seorang rebel. Mana ada perempuan Cina dengan rambut merah begini di sekitar Meruya?”

“Pasti ada lah!” Mo tergelak.

“Ya. Tapi jarang. Tatoan lagi! Gerejaku pun bukan gereja anak gaul! Tato ini harus kusembunyikan juga dari orang tuaku.”

 

Mo refleks mengelus rambutnya yang lebat berpomade rapi.

“Tapi aku, biar bagaimanapun tetap anak Mami Papi. Mereka bilang aku tidak boleh keluar dari rumah sampai nanti menikah.  Yang sepertinya tidak dalam waktu dekat.”

 

 

Pintu barbershop yang terletak bersebelahan dengan kafe, terbuka lebar. Seorang penjaga keluar dan menyapa Mo.

“Mas Mo. Sudah bisa potong rambut sekarang ya.”

 

Aku dan Mo bersama-sama melemparkan puntung rokok.

 

“Kartini yang ini, apa sudah sesuai dengan doa Mami?” tanya Mo.

“Belum sepenuhnya. Kartini bermanfaat untuk orang banyak. Aku belum! Tapi aku percaya pada feminisme. Ini membantu aku mengerti kalau perempuan dan juga laki-laki perlu bisa memiliki kebebasan dalam mengambil keputusan hidupnya sendiri. Walaupun kenyataannya, kita gak bisa seenaknya. Hidup kita dan orang tua kita tak terpisahkan.” jawabku menutup pembicaraan kami.

 

Mo melambaikan tangan dan masuk ke barbershop. Aku masuk lagi ke dalam kafe dan memesan secangkir teh Earl Grey.

 

Sore ini aku memutuskan untuk mematikan HP-ku. Sejenak stop memandangi layar dan duduk manis jauh dari rumah bersama sebuah novel. Tapi ternyata sore ini aku malah berbicara dengan hatiku. Tentang Kartini – dengan bekal ini aku menulis.

 

“Halo, namaku Kartini. Aku ingin mengguncang dunia. Seperti Kartini”.

 

***

 

Entah apa yang membuatnya bertemu Tania Kartini sore ini.

Mo menatap perempuan berambut merah itu dari jendela barbershop.

Hari ini ia semakin mantap memangkas rambutnya dengan gaya mohawk.

Ini tanda protesnya pada Bapak yang ketahuan punya istri muda.

 

“Halo. Namaku pun bisa Kartini. Aku mengguncang dunia mulai dari dunia Bapak. Rambutku ini bentuk protesku bersama hati Ibu yang pecah berkeping-keping.”

 

***

Photo by @dondihananto.

 

 

 

Catatan.

Raden Ajeng Kartini adalah perempuan yang hidup 100 tahun lebih cepat dari masanya.

Kartini muda tidak mengecat rambutnya dan tidak bertato.

Kartini muda menentang poligami, tetapi tidak berdaya melawan tradisi.

Kartini bukan pahlawan yang selalu menang dalam perjuangannya. Kartini melawan dengan apa yang ia punya. Fisik boleh terkurung tapi pikirannya selalu merdeka.

 

Tulisan ini adalah fiksi belaka. Penulis tidak menganjurkan Anda mengambil kebiasaan merokok atau merajam tubuh dengan tattoo. Semua kata dalam tulisan ini terinspirasi dari film Kartini karya Hanung Bramantyo dan pemandangan seorang perempuan berambut merah di sebuah cafe di Jakarta Selatan.

 

Selamat Hari Kartini 2017.

6 thoughts on “Halo, Namaku Kartini.

  1. Masih bisa ngebayangin Wina yg dari dulu gua kenal, nulis gaya nya yg super khas. Luv this one, Win! And luv you always too!
    The truth is, aren’t we all “Kartini” in our own way? Selamat hari Kartini juga!

  2. Kereen tulisannya!
    Ah ternyata teh wina bisa nulis fiksi juga. Enak dibacanya. Lancar mengalir. Ayo nulis terus teh!

  3. Perdana baca tulisan fiksi Mbak Wina. Selama ini stalking Mbak Wina di Twitter, seringnya ‘ngomel’ soal duit 😀

    Saya suka sekali ceritanya yang mengalir, Mbak. Sampai ditambah catatan di bagian akhir agar tidak meniru perbuatan merokok dan mentato badan juga 😀

    Keep it up, Mbak!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *