Emma dan Leyla

Categories Fiction

“It’s time for that walk of shame!”

Tulis Emma. Leyla menatap layar HPnya. Ada dunia yang ia tidak mengerti. Dan ia tidak merasa perlu mengerti dunia itu. Tapi mau tidak mau, Leyla tersenyum juga. Ada sesuatu yang menarik dari Emma – teman barunya.

 

I’ll meet you at breakfast! There is a cafe next door with yummy eggs benedicts and good capucinno!

Pesan baru Emma masuk lagi. Leyla pun bergegas keluar dari tempat tidur.

 

***

 

Leyla datang ke Hong Kong untuk menghadiri sebuah konferensi digital. Ia bekerja di sebuah digital agency ternama di Jakarta. CEO perusahaan tempatnya bekerja, Kang Prama sudah wanti-wanti. “Leyla nanti kamu ke Hong Kong bukan cuma datang konferensi ya. Kamu belajar interaksi dengan manusia!”

 

Leyla sempat manyun.

Memang serba salah. Leyla adalah seorang digital analis. Hidupnya adalah angka. Ia gak begitu suka bertemu orang. Leyla sudah tahu itu sejak lama. Ibunya pun sudah menyerah untuk mengajak Leyla datang ke acara-acara keluarga. Tapi bakatnya ‘meramalkan angka’ – begitu bossnya menyebut kemampuannya yang satu ini – akhirnya membawa Leyla ke sebuah industri yang terlalu hingar bingar untuk kepribadiannya. Dunia digital agency!

 

“Ley!” Teh Ana bossnya tiba-tiba saja sudah duduk manis di depan mejanya.

Leyla memalingkan pandangan dari layar laptop ke wajah cantik Teteh Boss. Rambut Teteh Boss yang keriting nyaris keribo dibiarkan terurai, sebuah scarf merah polkadot melingkari kepalanya. Kulitnya kecoklatan – jauh dari imaji perempuan Indonesia di iklan-iklan televisi. Campuran Arab, Ambon, Sunda membuat tampilan Teh Ana sangat amat eksotis. Teh Ana adalah sahabat kakak Leyla. Teh Ana mendirikan perusahaan digital agency bersama kakak sulungnya Kang Prama. Mereka sudah kenal Leyla sejak ia masih SD. Dengan mereka, Leyla merasa nyaman. Itu juga yang membuat Leyla memutuskan untuk bersedia bekerja di digital agency ini. Of all places a digital agency? Punya akun medsos aja gak! Paling banter Leyla punya akun Skype karena perlu bicara dengan kakak satu-satunya, Teh Teyta di Amerika.

 

Sejak Teh Teyta menikah dan pindah ke Amerika Serikat, Leyla hampir setiap hari bertengkar dengan Ibu. Itulah kenapa ia ikut dalam program akselerasi di SMA. Kuliah pun dikebut! Ia harus segera keluar dari rumah Ibu. Maka begitu lulus kuliah, dan mendapatkan tawaran bekerja, pindah ke Jakarta bersama Teh Ana, Leyla tidak pikir panjang. Hidup di Bandung dan hidup di Jakarta sungguh berbeda. Apa saja akan ia lakukan untuk tinggal tidak satu atap dengan Ibu. Bukan benci pada Ibu, Leyla hanya cape. Ibu punya personality yang flamboyan. Setiap hari adalah showtime!

 

“Ley!” Suara Teh Ana membangunkan Leyla dari lamunannya tentang Ibu.

“Kata Kang Prama, kamu aja yang pergi ke RISE! Ada Gary Vee lho!”

“Ih siapa deh Gary Vee?” jawab Leyla cuek aja.

“Leyla! Gary Vee! Gary Vaynerchuck itu bapak medsos dunia plis deh!”

“Teh atuh lah, aku bahkan gak punya akun medsos!”

“Ya artinya sekarang kamu perlu bikin!”

Leyla mendengus. Tanpa terasa ia sudah bekerja lebih dari 5 tahun di kantor Teh Ana dan Kang Prama. Dulu ia mulai sebagai asisten untuk Teh Ana. Leyla yang membuat review terhadap semua sistem kerja di agency ini. Leyla juga yang memastikan ada jadwal dan laporan khusus untuk setiap proyek. Maka dalam 5 tahun Leyla sudah beralih dari asisten hingga manajer dan sekarang menjadi Head of Data Analytics.

 

***

 

“What would a data analyst do at a conference like RISE?” protes keras Leyla tidak berpengaruh. Kang Prama sudah berkeputusan. Sebagai CEO perusahaan, semua kalimat yang keluar dari mulut Kang Prama adalah sabda!

Teh Ana memang terlalu baik. Bukan saja membantunya mendapatkan pekerjaan – Leyla yakin tanpa bantuan Teh Ana, dia masih terkurung di kamarnya di lantai atas di rumah besar di Jl. Sultan Agung, Bandung  –  Teh  Ana juga selalu membantunya jika ia kesulitan menyesuaikan diri dengan orang-orang sekitar.

 

Courtesy of ThinkWeb

 

 

Leyla menatap sekelilingnya. Di tempat kerjanya dia bukan satu-satunya perempuan berkerudung. Tapi cara Leyla berkerudung ini, dengan baju kebesaran dan tidak memerhatikan pola atau paduan warna, turut menambah tua penampilannya yang baru usia 24 tahun. Semua rekan kerja di digital agency ini berusia antara 22 tahun hingga 35 tahun. Hanya Kang Prama saja yang sudah masuk usia 38 tahun. Tapi dengan tubuh kekar langsing begitu, ngaku 30 tahun juga orang percaya.

Digital agency seperti ini dipenuhi anak muda. Pembicaraan sekeliling Leyla pun selalu tentang topik-topik anak muda. Leyla selalu merasa tidak nyaman. Bukan karena ia merasa tua. Ia memang tidak pernah nyaman berada dalam kerumunan.

Leyla mengemas laptopnya. Ia harus pulang dulu ke kost untuk ngepak barang. Duh pergi sendiri itu bukan masalah. Tapi pergi ke konferensi yang tentu saja dihadiri banyak orang, itu baru masalah!

 

***

 

Are you with Women in Technology Invitation?” seorang relawan dengan kaos merah menghampiri Leyla dan memeriksa tiket digital pada layar Hpnya. “You need to go through this way please.”

 

Leyla menurut saja.

Ia sengaja pesan tiket sehari lebih cepat. Dengan begitu Leyla bisa melakukan registrasi sehari sebelum konferensi dimulai. Saat belum terlalu banyak orang! Tapi nyatanya H-1 antrian untuk registrasi tetap mengular. Syukurlah ada kategori Women In Technology apalah ini yang ternyata membuat Leyla bisa pindah antrian yang lebih pendek.

 

photo by @mrshananto

 

Yeay! Positive discrimination! Woohoo!” seorang perempuan bule, blondie dengan mata biru berseloroh di sebelahnya. “My name is Emma. What’s yours?

Leyla melongo. Bisa sih ya langsung aja ngajak kenalan?

Oh mm I am Leyla.”

Leia as in the Star Wars Princess?” Emma si bule tertawa renyah dengan aksen British yang kental.

“Ley-la. Not Leia.” Jawab Leyla

Keduanya dengan cepat berhasil mendapatkan kartu dan gelang identitas untuk mengakses semua panggung RISE. Selesai dari booth registrasi, Emma masih menempel di sebelah Leyla.

 

So where are you based?” Emma nanya tanpa basa basi. Mau tau aja ya? Tapi pertanyaan ini unik. Dia gak nanya Leyla asalnya dari mana. Base-nya di mana?

How do you mean?”

Yeah. Where are you residing?”

I am from Jakarta.”

You’re from Jakarta?”

Not really. I am from Bandung. I work in Jakarta.”

Ah I see.”

How about you?” Leyla memberanikan diri bertanya, “Where are you from? And where are you based?” Oh ternyata ini guna pertanyaan aneh tadi! Gak semua orang itu asalnya dari tempat dia kerja!

I am from London. But I am now based in Singapore! So we’re practically neighbours!” jawab Emma dengan ceria. Seolah ketemu orang satu kampung halaman!

 

Are you coming to the pup crawl tonight?”

The what?”

Yeah there’s a PUB crawl, tonight. A chance to meet all the other participants over beer or wine… or…” Emma terdiam, menyadari ia bicara dengan seorang perempuan Muslim berkerudung, nawarin bir dan anggur yang bener aje. Cepat-cepat ia menambahkan, “Or you can always have a coke or orange juice!”

Leyla terdiam. Gak pernah terpikir untuk ikutan pub crawl atau apa namanya lah itu.

 

Where are you staying?” Emma ini gak kenal putus asa ya orangnya!

At the OZO.” Kenapa juga Leyla kasih tahu nama hotelnya ya? Leyla heran sendiri.

Great! That’s the same as mine. I’ll meet you at the lobby at seven thirty. We’ll catch the tram to Central and walk our way up to LKF! See you tonight Princess!” teriak Emma sambil menghilang di tengah kerumunan orang.

 

Leyla masih terdiam.

“Ley. Ingat ya! Kamu ke RISE bukan cuma nonton panelis. Kamu kenalan! Saya mau lihat kartu nama orang dan harus ada cerita tentang orang-orang itu!” Suara Kang Prama terngiang-ngiang. Nah Kang, ini ada satu orang bule ngotot ngajak Leyla ke pub. Tapi gak ngasih kartu nama! Ini udah  masuk interaksi manusia belum Kang?

 

***

photo by @mrshananto

 

20.00

Lan Kwai Fong yang kondang sebagai pusat hiburan malam Hong Kong ternyata cuma segitu aja. Rasanya masih lebih banyak pub dan kafe sepanjang Kemang deh! Leyla bersungut-sungut dalam hati.

 

Emma si teman baru asal Inggris domisili Singapura itu, betulan menantinya di lobby hotel pukul tujuh malam. Lalu berdua mereka naik tram sampai Central dan jalan kaki mendaki bukit menuju Lan Kwai Fong. Kalung identitas RISE yang sangat besar dan lebih mirip kalung anjing itu, terpaksa harus mereka pakai. Ini memudahkan para relawan konferensi melihat siapa saja partisipan yang datang atas nama RISE dan kalau beruntung masih bisa menyediakan meja khusus.

Tapi kali ini mereka tidak beruntung. Semua meja sudah penuh. Ternyata peserta konferensi cukup antusias turut serta dalam pub crawl malam itu. Emma dan Leyla terpaksa berdiri di luar salah satu pub. Emma dengan segelas wine, Leyla dengan segelas Coca Cola.

 

Are you uncomfortable?” Emma lagi-lagi jadi orang pertama yang memecah kesunyian. Well, gak sunyi amat sih. Berisik banget sebetulnya. Tapi dari tadi mereka memang belum ngobrol lagi.

I am not good with crowd. Is it so obvious?”

Don’t you worry about it. Even I sometimes feel like I don’t belong in a crowd!” kata Emma setengah berteriak karena suara musik dari pub memang terlalu kencang.

You? Uncomfortable?”

Princess! There is an introvert in all extroverts!”Emma tertawa renyah.

 

Hi how’s it going? What are you girls up to?” dua orang pemuda kulit putih menghampiri. Leyla terkejut. Lalu ia sadar, kedua pemuda ini bicara pada Emma – bukan pada dirinya.

I’m Shane. This is Toby. We’re from Sydney, Australia!

I’m Emma, from Singapore! Well originally London. Oh wow we’re all neighbours!” jawab Emma riang, lalu buru-buru  menggaet tangan Leyla “And this is my friend Leia the Princess! She’s from Bandung and now works in Jakarta!

 

Shane dan Toby terlihat bingung. Sejak kapan seorang perempuan kulit putih blonde dengan pakaian serba ketat bisa hang out dengan perempuan berkerudung dengan baju kedodoran di depan pub paling ramai di Lan Kwai Fong?

Oh hi there Leia! Like the Star Wars Princess?

Ley-la. Not Leia. Emma stop it!” akhirnya Leyla buka mulut juga.

It’s just my way making her speak out! Haha!” Emma tertawa kecil.

So what are you up to?” Toby, yang badannya lebih kecil dan klimis, berusaha terlibat dalam percakapan.

I was just talking to Leyla here that there is an introvert in all extroverts!

Oh yeah? How do you know about this?” Shane, Toby dan Leyla bertanya hampir berbarengan.

Emma mengeluarkan Hpnya dari tas kecil yang bertengger di bahunya.

I saw it here. There is an online test to discover your personality. Apparently I am a Campaigner with 90% extrovert traits – but there is 10% of me as an introvert. So I totally understand how Leyla feel about being uncomfortable in a huge crowd! This test makes me realise that I should adapt to other people’s personalities. It has helped me tremendeously in dealing with clients and friends.

Mereka berempat berkerumun melihat layar HP Emma.

 

https://www.16personalities.com/free-personality-test

 

It seems like a good idea for an upgrade to Tinder!” Leyla berkomentar tanpa ekspresi.

Shane, Toby dan Emma tertawa keras. Tidak ada satupun di antara mereka yang percaya kalau Leyla mengerti apa itu Tinder.

What? I am a digital analyst. So I study these things.” Leyla masih pasang tampang serius.

 

Sungguh malam yang menarik.

Siapa mengira pub crawl jadi wahana berkenalan dengan orang dari berbagai penjuru dunia. Shane adalah seorang programmer. Ia memutuskan bekerja mandiri saja – setelah 5 tahun berdomisili sebagai programmer di Vietnam. Shane dan Toby senang berselancar. Shane sudah pernah pergi ke Bali tapi masih ragu-ragu apakah Jakarta cukup aman untuk orang kulit putih. Sebuah pernyataan yang membuat Leyla tertawa dengan keras.

 

Sementara Toby bekerja di sebuah digital agency ternama di Sydney. Penampilannya yang klimis sebetulnya cukup menarik, entah kenapa Emma seperti kurang tertarik walaupun Toby kelihatan berusaha keras agar jadi orang yang asyik.

 

Malam masih panjang. Tapi Leyla tidak bisa tidur terlalu malam. Saat ia mengajak Emma pulang, Emma kelihatan asyik ngobrol dengan Toby dan seorang laki-laki kulit putih lain. Kali ini dengan kulit sedikit saja lebih gelap, badan lebih tinggi dan ternyata orang Brazil! Emma is a magnet for white boys!

 

You go ahead Princess. I’m gonna stay!” Emma mengedipkan matanya.

***

 

So? Is it love?” Leyla bertanya dengan sinis.

Leyla! Don’t be ridiculous!

Akhirnya Emma sampai juga ke cafe di sebelah hotel mereka. Ini pertemuan Emma dan Leyla yang terakhir, sebelum Leyla harus berangkat ke bandara pulang ke Jakarta.

 

HE is just nice.” Emma senyum-senyum dan mengerlingkan matanya yang biru.

I am sure he is.” jawab Leyla sembarangan.

You don’t even know what I am talking about!” Emma tergelak.

Do you know his name, at least?” Leyla mulai terdengar seperti seorang ibu yang menginterogasi puterinya.

Eduardo! His name is Eduardo!

Poor Toby must be heart broken.” Jawab Leyla – tanpa ekspresi – yang tentu saja disambut gelak tawa oleh Emma.

Now shut up. I want you to fill out this online test! It’s quite accurate. And it can help you understand yourself. Trust me. Use my phone. Meanwhile I am going to set you up an Instagram account.

 

Emma dan Leyla bertukar HP. Leyla mulai menjawab satu per satu pertanyaan dalam tes kepribadian online yang bikin heboh semalam itu.

What do you get?” Emma penasaran.

INTJ! Whatever the hell this means.

Haha! I got ENTP – with full blown 90% extrovert and 90% intuitive. May be that’s why we click eh? Anyway I have sent the result to your email. You can read them later. It’s really cool.” jawab Emma sambil mengembalikan HP Leyla.

Here, I got you an Instagram account and I have taken a picture for you to post! All you have to do now is find a friend to follow so they can follow you back!” lanjut Emma sambil menyeruput capucinnonya.

 

Sejak kapan seorang kulit putih harus mengajari orang Indonesia menggunakan media sosial? Sejak orang Indonesia itu adalah Leyla! Seluruh selebgram bisa demo turun ke jalan kalau tahu kejadian hari ini.

 

Leyla menatap layar Hpnya.

Akun Instagram!

Photo makanan!

Teman baru seorang bule yang extrovert 90%!

 

Leyla menggerakkan jemarinya untuk search sebuah nama di Instagram.

Pramaditya. Klik. Follow.

Pasti Jakarta gonjang ganjing karenanya.

Kang Prama! Mission accomplished. I have come through from my comfort zone.

Slowly.

photo by @mrshananto

***

 

This personality test is for real – to try it HERE!

Let me know your result at Twitter / Instagram @mrshananto.

 

This is an early birthday present for Nina Moran – my RISE buddy.

The introvert who introduced me to Lan Kwai Fong!

2 thoughts on “Emma dan Leyla

Leave a Reply to Ligwina Hananto Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *