Belajar dari Ibu Dini dan Mona Ratuliu

Categories Personal
Belajar dari Ibu Dini dan Mona Ratuliu
Belajar dari Ibu Dini dan Mona Ratuliu

 

Hari ini jadi hari yang seru banget karena saya bertemu dengan dua orang keren.

Ibu Dini – Zahra Fajardini, M.Pd – dari Sekolah Nizamia dan

Mona Ratuliu – aktris, presenter, penulis buku Parenthink.

 

Ceritanya saya diundang oleh Mayor Estu dalam rangka ulang tahun Wanita Angkatan Udara Indonesia yang ke-53. Kami berkumpul di Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) area Halim Perdanakusumah. Saya sudah mendapat brief kalau saya bicara sekitar 15 menit, bergantian dengan Ibu Dini dan Mona.

Terima kasih Mayor Estu TNI AU
Terima kasih Mayor Estu TNI AU

 

Dengan Mona, saya sudah kenal cukup lama. Jadi bertemu Mona rasanya seperti reuni. Mona meluncurkan buku tentang parenting yang keren banget, berdasarkan pengalamanannya menjadi seorang ibu. Sejak dulu Mona memang punya perhatian khusus pada cara suami-istri, bapak-anak, ibu-anak, kakak-adik berinteraksi. Keterbatasan ilmu tidak menghalangi Mona lho. Meski bukan psikolog, Mona rajin sekali mencari tahu tentang ilmu parenting!

 

Mona bercerita tentang putri sulungnya, Davina (sekarang 13 tahun) yang dulu sangat mudah marah, bertengkar terus, berteriak-teriak, mudah tersinggung dan bahkan mengancam.  Yang kalau dipikir-pikir, begitu juga cara Mona berinteraksi dengan Davina!

 

Suatu hari dengan penuh amarah, Davina bilang, “Aku gak suka ibu seperti Bunda!”

 

Alih-alih marah, Mona malah introspeksi diri. Ini jadi titik balik Mona mengubah caranya menjadi seorang Ibu!

 

Mona Ratuliu memperkenalkan buku Parenthink di acara Wara Kohanudnas.
Mona Ratuliu memperkenalkan buku Parenthink di acara Wara Kohanudnas.

Beberapa prinsip yang Mona gunakan dalam menjadi ibu:

  1. Bicara pada anak dengan cara yang Mona ingin orang lain bicara pada dirinya.
  2. Membiarkan anak menghadapi kesulitan dan mengambil keputusan sendiri.
  3. Semua BOLEH – tapi dengan banyak persyaratan dan konsekuensi dari pilihan yang anak ambil.

 

 

Ibu Dini dari Sekolah Nizamia Andalusia.
Ibu Dini dari Sekolah Nizamia Andalusia.

 

Setelah Mona dan saya, giliran Ibu Dini. Ibu Dini yang baik hati menceritakan perjuangannya mengurusi Sekolah Nizamia Andalusia. Sekolah ini berawal dari sebuah TK kecil di area Jalan Prapanca, Jakarta Selatan. Sekarang Sekolah Nizamia menempati gedung baru di area yang lebih luas di daerah Jakarta Timur. Ibu Dini ini tak kenal takut. Bahkan saat kondisi genting, dana kas terbatas, serta keberatan para orang tua tentang lokasi sekolah yang baru, Ibu Dini maju terus.

 

Kalimat Ibu Dini sangat membekas di hati saya.

Saya tidak berjalan sendirian. Saya berjalan bersama Allah.

 

Kadang kita bekerja keras lalu banyak mengeluh. Kemudian lupa kalau kita itu tidak sedang sendirian. Ada Allah SWT yang selalu bersama kita, dalam susah maupun senang. Jadi kenapa harus resah?

 

Bersama Ibu Rina - istri Panglima, Mona Ratuliu dan Ibu Dini di Ulang Tahun Wara ke-53.
Bersama Ibu Rina – istri Panglima, Mona Ratuliu dan Ibu Dini di Ulang Tahun Wara ke-53.

 

Terima kasih Ibu Dini.

Terima kasih Mona.

Juga terima kasih Ibu Mayor Estu.

Hari ini jadi hari pembelajaran bagi saya agar bisa jadi manusia lebih baik setiap hari.

Jadi perempuan Muslim Indonesia yang kuat, terpelajar, maju terus untuk orang sekitarnya.

 

Kalau kamu suka artikel ini bantu share ya 🙂

 

Salam,

Ligwina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *