Bahagia Itu Tidak Bisa Pura-Pura

Categories Fiction
photo: @mrshananto

 

Perempuan cantik itu bergerak dengan anggun memasuki gerbong kereta. Tas Prada di tangan kanan. Koper Samsonite di tangan kiri. Rambutnya terurai panjang, dengan banyak layer, membingkai wajah yang tirus.

 

Ini pasti ke salon khusus. Warna coklat, hitam dan kuning bergantian dalam setiap helai rambutnya. Pas sekali. Tidak berlebihan. Tidak kekurangan.

 

Kulitnya mulus, pasti juga hasil langganan ke dokter kulit. Ia tidak seperti perempuan model boneka. Perempuan ini kelihatan punya karakter yang sangat kuat. Bahkan saat ia tidak berbicara.

 

Sepatunya! Sepatu wedges dengan strap emas berkilap, platform kayu yang tidak terlalu tinggi. Tapi cukup untuk membuat postur tubuhnya yang kecil menjadi tegap dan menaikkan posisi bokong lebih tinggi. Oh betapa aku menghakimi orang berdasarkan sepatunya!

 

 

Tebakan.

Ia pasti perempuan pekerja. Wanita karir. Dinas dari kantor mengharuskannya mengunjungi kantor cabang di Cirebon di akhir pekan ini. Sekarang pulang ke Jakarta dan siap berjibaku lagi dengan gemerlap Ibukota.

 

Aku mulai berpikir. Apakah aku bisa seperti dia jika tidak memilih jalan hidup seperti hidupku sekarang?

 

“Aw!”

Aku terbangun dari lamunanku. Faiz yang sedang menyusu menggigil putingku dengan keras. Refleks aku melepaskan Faiz. Ia muncul dari balik kerudungku dan tertawa jenaka.

 

Perempuan cantik itu lewat di depanku dan terpaksa menonton payudaraku yang terpampang begitu saja karena Faiz tidak mau berhenti bergerak. Mata kami bertemu, mata kami saling tersenyum. Lalu ia berlalu dan duduk di kursi paling belakang.

 

Aku segera mengancingkan bajuku dan menurunkan kain kerudungku yang warnanya ungu muda, senada dengan gaunku.

“Aurat itu harus ditutup Dek.” Begitu kata Erwin saat ia merayuku untuk mengenakan kerudung.

 

photo: @mrshananto

Namaku Elis. Aku menikah dengan Erwin dan tinggal di Cirebon. Suamiku adalah seorang dokter. Kami bertemu saat aku masih mahasiswa di Universitas Hasanuddin, Makassar. Erwin datang dalam sebuah konferensi kedokteran dan aku menjadi salah satu mahasiswa yang bertugas menjadi panitia.

 

Aku tidak mengerti apa yang membuat hatiku membuncah setiap kali bertemu Erwin. Dokter, muda, ganteng, dari tanah Jawa. Kata teman-temanku, berdiri saja di depan pintu sudah cukup membuat semua mahasiswa perempuan se-Makassar terpesona. Tapi Erwin hanya mau berbincang-bincang denganku.

 

Rambutku yang hitam panjang adalah daya tarik utamaku. Begitu kata Erwin. Sejak kecil ibuku memang rajin merawat rambutku. Rumah kami di Rantepao punya halaman besar. Rumah panggung dari kayu yang sudah ditempati keluarga kami selama 3 generasi. Rambut hitam ini yang membawa aku berdekatan dengan Erwin. Tapi tentu sekarang hanya ia yang bisa menikmati keindahan rambutku.

 

Aku menikah dengan Erwin 5 tahun yang lalu. Dengan segala drama yang dapat terjadi di muka bumi. Keluargaku adalah keluarga yang berpengaruh di Tana Toraja. Bersama nama-nama keluarga terkenal dari Toraja seperti Boron, Pakke, Lethe, Musu dan Parantean, Papa termasuk dalam segelintir elit Tana Toraja yang berhasil menembus jalur khusus kuliah di ITB di tahun 1970-an.

 

Saat aku bercerita kepada orang tuaku bahwa aku akan menikah dengan Erwin, Mama mengeluarkan semua isi lemari hingga pecah berantakan. Aku hanya bisa menangis menghadapi sumpah serapah Papa. Kak Sam, kakak sulungku marah besar dan mulai menghantam Erwin dengan tinju.

 

Apa yang terjadi selanjutnya malah membuat aku semakin ingin menikah dengan Erwin. Ia membiarkan dirinya ditinju dan ditendang oleh Kak Sam. Ia tidak melawan. Ia tidak bicara. Saat Kak Sam berhenti, baru Erwin bicara.

 

“Kak. Aku berjanji akan  menjaga Elis. Sampai kapan pun. Demi Allah Kak.”

Kak Sam terduduk di depan Erwin yang sudah bengap. Kak Sam mulai ikut menangis.

 

Hari itu, aku pergi dari rumah hanya dengan pakaian yang ada di badanku. Sepanjang perjalanan, aku terus menatap ke luar jendela mobil. Erwin gemetar mengendalikan mobil melalui liku jalan pegunungan Tana Toraja menuju Makassar. Hamparan sawah menghijau. Langit yang hampir selalu biru. Dingin yang menyeruak dari bilah jendela yang terbuka. Tanah magis ini akan selalu jadi tanah kelahiranku.

 

 

“Apa kabar Elis?”

Layar HPku sontak benderang karena menerima teks WA.

“Yusna? OMG! Kamu di mana ?”

 

Yusnawati adalah sahabatku saat SD dulu. Yusna dan aku bersekolah di pedalaman Sulawesi. Sebuah kota kecil yang memproduksi nikel. Kami sama-sama dari Sulsel. Hanya saja ia anak Bugis, aku anak Toraja. Di sana kami tidak kenal perbedaan. Sebagai anak kecil, kami hanya tahu kami menikmati naik sepeda bersama dan saling mengepang rambut. Rasanya sudah lama sekali aku tidak bertemu Yusna.

 

“How’s life Elis?”

“Good. Anakku sudah empat! Hahahahah!”

“Ya ampun. Rajin ya suamimu!”

“Hush!”

 

Aku menatap Erwin, suamiku yang duduk di seberang gang gerbong kereta. Ia tertidur, menyenderkan kepalanya ke jendela. Ia memang ganteng. Kulitnya kecoklatan. Tubuhnya tegap. Rambut tercukur rapi. Lebih mirip tentara daripada dokter bukan?

 

“Jibril. Jangan panjat kursinya. Nanti Tante yang di belakang terganggu.” Kataku lembut pada putra ketigaku. “Alya, di-charge dulu iPad-nya nak. Supaya bisa dipakai lebih lama. Kakak Ismail. Tolong bantu Alya ya nak.”

 

Setelah pamit pada keluargaku di Rantepao, Erwin memboyongku pulang ke Makassar. Kami menikah siri di depan seorang ustadz masjid dekat rumah kost. Tentu saja di hari yang sama aku mengucapkan kalimat syahadat terlebih dahulu. Setelah berkemas, kami menuju Tanjung Priok dengan kapal laut, lalu kereta ke Cirebon. Aku menghabiskan malam pertama berdua Erwin di atas kapal PELNI yang meluncur menyeberangi Laut Jawa.

 

Setibanya di Cirebon, Erwin memperkenalkan aku kepada keluarganya. Ibunya menangis. Aku rasa kalau anakku tiba-tiba pulang dari seberang lautan membawa perempuan yang sudah ditidurinya, aku pun akan menangis. Entah apa yang membuat Erwin dan aku begitu percaya bahwa kami saling mencinta. Bertemu hanya 1 minggu, Erwin langsung menyatakan ingin membawaku ke Pulau Jawa. Aku meninggalkan bangku kuliah, mematahkan hati kedua orang tuaku dan meninggalkan Sulawesi begitu saja untuk Erwin. Aku ingin bahagia bersama Erwin!

 

Pesta pernikahan kami berlangsung sederhana saja. Aku harus mengulang kalimat syahadat di depan Ibunda Erwin dan ulama setempat. Kali ini aku menikah resmi di kantor KUA. Ibu masih belum bicara padaku hingga sebulan aku tinggal di rumahnya. Aku berusaha keras jadi menantu yang baik. Aku selalu bangun pagi – walau aku tidak selalu sholat Subuh. Waktu itu aku belum tahu semua ayat yang harus kubaca. Jadi aku hanya mengikuti gerakan sholat saja saat Erwin jadi imam sholat. Setelah bangun aku menyalakan mesin air dan membantu menyiapkan sarapan pagi. Ibu biasanya keluar kamar pukul enam. Aku selalu memastikan ada secangkir teh Upet tanpa gula sudah tersedia di atas meja.

 

Aku hamil sebulan setelah aku tinggal di Cirebon. Kehamilan pertama ini begitu berat. Aku mabuk sejadi-jadinya dan tidak bisa makan. Berkah dari kehamilan Ismail ini, Ibu mau membukakan hatinya dan mengurusiku. Aku yang nyaris pingsan setelah muntah begitu banyak.

 

Dari rahimku, lahirlah Ismail, Alya, Jibril dan Faiz. Ketiganya hanya terpaut umur 1 tahun. Aku betul-betul tidak diberi jeda. Aku selalu langsung hamil begitu nifasku selesai. Kecuali  setelah Faiz lahir, aku memohon-mohon pada Erwin agar aku diijinkan pasang IUD. Aku kewalahan mengurusi 4 balita sekaligus. Erwin hanya menjawab, “Satu lagi lah supaya lengkap seperti Pandawa Lima.”

 

“Bagaimana hidup Elis yang bintang pelajar ini?”

“Apanya yang bintang? Kau mi saja yang bintang!”

Aku mengetik balasan dengan susah payah. Jibril masih berusaha memanjat kursi sebelah sementara Faiz mengoceh dalam pelukanku.

 

Dulu Yusna dan aku berangkat bersama-sama dari rumah. Ia mengaji di masjid sebelah gereja Oikumene tempat aku sekolah Minggu. Ia biasanya selesai duluan dan duduk manis di depan gereja, menanti aku keluar lalu kami bebas main bersama seharian. Bersama Yusna, aku dulu berkhayal. Kami akan ke Ibukota! Kami akan jadi wanita karir. Kami akan tinggal di sebuah gedung bertingkat, berdua saja!

 

“Yusna. Sa sedang dalam perjalanan ini. Naik kereta dari Cirebon ke Jakarta.”

“Ah pigi ko ke Ibukota?”

“Tidak ji. Ini Kak Erwin dapat pekerjaan di Timika!”

“Timika? Di mana mi itu?”

“Papua itu Yusna. Jadi ini sa dengan anak-anak ikut pindah semua menuju Timur!”

“Eh senangnya mi ki. Selalu bersama keluarga!”

“Yusna. Di mana mi ko sekarang?”

 

Yusna mengirimkan photo dirinya. Wajahnya masih wajah Yusna sahabatku. Kulitnya sawo matang. Matanya bulat ceria. Perempuan muda dalam photo itu mengenakan kerudung hitam yang membalut hanya rambut dan lehernya. Pakaiannya kaus tangan panjang ketat berwarna merah jambu bertuliskan “The Urban Mama”. Celana olah raga ketat warna abu-abu membalut kakinya dan rok tenis mini hitam menambah urban penampilannya. Di belakangnya, menjulang monumen seperti simbol lingga yoni di masa lampau dengan puncak keemasan. Yusna mengirimkan photo dirinya sedang olahraga di Monas!

 

“Yusnawati Baso! Ko berhasil menaklukkan Ibukota?”

“Sa sedang lari di sini kawan. Dengan teman-teman dari kantor ji ini. Kantorku tidak jauh dari sini. Sa sudah jadi kepala cabang Elis!”

 

Ah bangganya aku pada Yusna. Kami dulu selalu bersaing. Kalau aku ranking satu, Yusna ranking dua. Kalau aku ranking dua, Yusna ranking satu. Kami selalu kompak hingga lulus SMP lalu Yusna pindah ke Jogja dan aku pindah ke Makassar.

 

Aku masih ingat malam terakhir kami di kota kecil itu. Duduk bersama di bawah terang bulan. Bertukar buku tulis penuh tulisan kenangan bersama. Berjanji, suatu hari akan menaklukkan Ibukota! Jadi wanita karir! Sukses!

 

Aku menatap kelilingku.

4 anak dalam waktu 5 tahun. Ini juga prestasi kan?

Sekitar 6 bulan yang lalu, Erwin mendapat tawaran pekerjaan sebagai dokter di Timika. Bayarannya bagus. Hanya jauhnya itu lho! Erwin tak sanggup hidup berpisah terlalu lama dari anak-anak. Maka hari ini, ia memboyong kami sekeluarga menuju Timika. Kami dari Cirebon, menuju Jakarta. Esok, ada pesawat khusus karyawan yang akan membawa kami dari Jakarta, ke Makassar lalu menuju Timika. Anak-anak pasti senang sekali naik pesawat terbang untuk pertama kalinya.

 

Seperti apa ya tempat baruku nanti? Apa yang akan aku lakukan di sana? Paling tidak di Cirebon, tempat yang sangat baru itu, aku ‘berlindung’ di rumah Ibu. Hati Ibu cair begitu anak-anak lahir. Ibu tetap tidak banyak bicara padaku. Tapi dengan cucu-cucunya  aku selalu melihat Ibu tersenyum bahagia. Di Timika nanti, aku akan menaklukkan apa?

 

Aku harus sibuk mengawasi dan mengajak ngobrol keempat anakku. Sementara Erwin, tidur pulas di kursi seberang. Seperti inikah bahagia yang aku inginkan? Tapi hidupku hari ini kan, pilihanku sendiri?

 

Tadi pagi, Ibu mengantar kami sekeluarga ke stasiun. Sebelum kami masuk kereta, Ibu memelukku dengan erat. Pelukan pertama Ibu setelah aku datang menerobos masuk ke dalam hidupnya 5 tahun lalu.

“Elis. Bahagia itu tidak bisa pura-pura.”

Ibu berbisik.

“Kamu cari bahagia ya! Telpon Ibu kalau kamu dan anak-anak sudah sampai ke Timika.”

 

 

Aku mencoba mengetik lagi pada HPku di tangan kanan dan Faiz yang minta dipeluk di tangan kiri.
“Ah Yusna. Selamat ya. Paling tidak salah satu dari kita sudah menaklukkan Ibukota!”

“Elis. Kau ini! Tapi saya belum punya anak kodong.”

Teks dari Yusna membuatku terdiam.

 

Mataku mengerjap. Aku tak sempat menangis.

Sekali lagi aku terburu-buru membereskan kerudungku agar payudaraku tidak terpampang pada dunia. Faiz meronta-ronta. Ia sudah kenyang dan ingin segera bermain dengan kakaknya. Dalam hati aku ketakutan, aku belum haid sejak Faiz lahir. Apa seharusnya aku bahagia?

 

***

 

CATATAN.

Tulisan ini adalah tulisan fiksi semata. Penulis menghormati pilihan masing-masing individu untuk menjalankan ibadah dan keyakinannya sendiri.

 

Tulisan ini ditulis untuk menghibur seorang sahabat yang memilih pindah agama dan terbuang dari keluarganya. Semoga hatimu selalu kuat dan tahu aku sayang padamu.

Untuk para perempuan. Merdeka artinya memiliki pilihan. Tapi kita tidak bisa lari dari konsekuensi pilihan hidup itu sendiri.

Ditulis di atas Kereta Api Argo Sindoro Cirebon – Jakarta.

8 thoughts on “Bahagia Itu Tidak Bisa Pura-Pura

      1. Iya mbak, emang harus sama-sama belajar buat nerima yang gitu-gitu. Tapi, saya penasaran gimana konfliknya kalau ada yang pindah agama, hehehe.Mungkin bisa diilustrasikan juga..
        Kalau berkenan mampir ke blog mbak, agak rajin nulis gara-gara PAM-nya bang Adri..haha..

  1. Ga nyangka Mbak Wina bisa nulis fiksi sebagus ini. Saya suka idenya, gaya bahasanya, cara penulisannya, semua deh :). Keep on writing fiction, Mbak!

    1. Aku pun. Sebagian curcol mengingat rasa waktu jadi ibu rumah tangga – merasa bersalah karena tidak suka hanya di rumah dengan si kecil (yg skrg udah SMA) – dan lihat ibu2 ngurus 4 anak duduk depan gw pas di kereta api dari Cirebon 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *