8 Hal Yang Bisa Kamu Lakukan Untuk Marathon Recovery – Story of My Virgin Marathon at Tokyo Marathon 2017

Categories Running

It’s Tokyo Marathon, baby!

42K lari lebih dari 2 jam? Ini olah raga kelas berat!

Saya bahkan lari hampir 7 jam! Saking pelannya!  Sudah pasti badan rontok. Gak mungkin cuma pegal ya.

 

Tokyo Marathon 2017

Berikut ini beberapa hal yang saya lakukan untuk recovery dari marathon pertama saya. Ini bukan saya sok tahu – ada tips yang saya dapatkan dari coach, ada juga yang saya dapatkan dari teman-teman pelari. Silakan riset lagi supaya kamu menemukan cara recovery yang terbaik!

 

Where Champions Run

KEEP WALKING AND KEEP YOUR BODY TEMPERATURE WARM

Saat masuk garis FINISH jangan langsung berhenti. Pastikan badan masih bergerak terus. Meski berhenti lari, saya terus berjalan supaya badan gak kaget.

Ramai-ramai jalan berselimut foil

Para volunteers di Tokyo langsung mengarahkan saya menuju Runners Service area. Hal pertama yang mereka lakukan adalah membagikan selimut foil untuk menghangatkan tubuh kami. Suhu udara hari itu berkisar antara 5C – 12C. Jadi begitu memasuki garis Finish dan berhenti berlari, badan terasa sekali dinginnya.

 

FIRST AID: HYDRATION AND FUEL

Hal kedua yang disiapkan para volunteers adalah minuman dan makanan. Lari sejauh itu membutuhkan energi yang sangat banyak. Sepanjang jalan saya asyik makan minum sih. Jadi sampai di Finish saya merasa cukup kuat dan kenyang.

 

Di Tokyo Marathon 2017, pembagian ransum ini terdiri dari sebotol Pocari Sweat, sebotol air mineral, 2 tangkup roti peanut butter dan sekotak energy bar. Dari area Runner Service saya mengambil kantong pakaian di lorry bag yang parkir di Hibiya Park. Setelah itu menuju area ganti baju.

 

STRETCHING

Kamu biasa melakukan stretching seperti apa? Saya pun set khusus yang diwajibkan Mas Adri Coach saya untuk saya lakukan terutama sesudah long run. Gak ribet kok. Cuma membutuhkan banyak gerakan dengan posisi tiduran. Jadi saya melakukan gerakan-gerakan ini di tenda tempat pelari berganti baju. Gak usah mikirin orang lain ngeliatin ya. Yang tahu kebutuhan stretching kan kita sendiri!

 

Jalan menuju Hibiya Park

 

GANTI BAJU

Panitia Tokyo Marathon mewajibkan para pelari untuk ganti baju di area pelari. Ada warning besar-besar dalam brosur pelari agar tidak berganti baju di restoran, mall atau area publik sekitar Finish area. Tujuannya tentu saja supaya tidak merepotkan area publik. Tapi sebetulnya ini juga penting untuk menjaga supaya badan tidak dalam keadaan basah keringat terlalu lama.

 

Area ganti baju di Tokyo Marathon berupa 2 tenda besar yang terbagi untuk laki-laki dan perempuan. Areanya tidak privat. Jadi agak malu-malu deh ganti baju di depan orang lain. Yang mengganggu sebetulnya adalah suhu udara yang tentu saja sangat dingin untuk ukuran tropical islander seperti saya.

 

MAKAN MINUM (LAGI)

Selesai berganti baju, masih dengan jalan tertatih-tatih saya menuju pintu keluar dan bertemu suami, 3 anak beserta adik dan adik ipar saya yang sudah menunggu lama. Lepas senang bertemu mereka, kami jalan kaki menuju restoran sushi sesuai petunjuk Google Map.

 

Mungkin adrenaline masih tinggi, oxytocin juga masih tinggi. Saya gak merasa sakit sama sekali. Pegal sedikit saja. Semangat tetap jalan sekitar 1K menuju restoran. Makan malam itu berupa sushi kas Jepang yang serba seafood.

 

Pesanan khusus dari dr. Grace dan Coach Adri adalah jangan minum manis dulu, makan carbo boleh tapi cari protein lebih banyak untuk menggantikan muscle tissue yang rusak. Saya gak banyak mikir sih. Suasana hati sesudah lari selama itu adalah rada zombie. Jadi saya makan saja semua yang disediakan suami saya di depan mata hahaha!

 

AIR ES

Ini banyak yang menyarankan ya. Bentuknya bisa kompres, semprot shower atau berendam. Tapi hampir semua sama yaitu istirahatkan kaki dengan air es. Berhubung winter ini gak kira-kira dinginnya. Sampai apartemen saya sudah gak berminat untuk berendam. Saya mandi air panas saja dan sesudahnya menyemprotkan shower air dingin ke sekujur kaki. Kegiatan semprot air dingin ini masih saya lakukan di H+1 dan H+2.

 

ISTIRAHAT DAN MENANGANI INFLAMASI

Saat sudah mau tidur saya baru merasakan cape yang luar biasa. Badan pun terasa menggigil dan rada anget nih. Teman-teman pelari yang sudah lebih senior dalam pengalaman (beberapa juga atlet triathlon) menjelaskan ini bagian dari badan drop dan inflamasi pada badan setelah dihajar olah raga berat.

Untuk bisa recovery, saya perlu istirahat tidur yang enak. Kalau perlu minum ibuprofen atau parasetamol. Saya memilih parasetamol dan terpaksa ‘mengusir’ si bungsu untuk tidak tidur dengan saya malam itu.

 

KEEP WALKING!

Badan saya ternyata cukup cepat recover  karena saya gak diam di rumah saja. H+1 saya sudah jalan-jalan lagi dengan keluarga. Walaupun harus berjalan sangat pelan dan ditenteng oleh Si Mas – anak sulung saya saat naik turun tangga di stasiun kereta sekitar Tokyo. Dengan tetap bergerak, otot yang terasa pegal sekali di H+1 malah jadi tidak kaku dan lebih relax di H+2.

 

Cerita penutup dari rangkaian Tokyo Marathon ini adalah pertemuan saya dengan Mary orang Irlandia. Saat jalan menuju tenda untuk ganti baju, saya melihat Mary berjalan dengan medali yang BERBEDA! Hey tunggu dulu! Ini apa?

Ternyata Mary adalah salah satu Finisher yang telah menyelesaikan SEMUA 6 KOTA SERIAL WORLD MAJOR MARATHON! Saya sungguh terpesona! Bersama Mabel, orang Hong Kong, saya pun mohon ijin pada Mary untuk berphoto bersama.

 

Mary my new rockstar!

“Mary, if you don’t mind. May I know how old  you are?”

“Why certainly. I am 72 years old!”

“And how long did it take you to finish all 6 major marathons?”

“It took me 8 years!”

“Mary you are such an inspiration. You know, this is my first marathon!”

“Well congratulations! Now you know what you have to do to finish 5 more!”

 

Sepertinya, memang akan ada lagi marathon lain yang perlu saya lalui. Kalau seorang oma seperti Mary bisa menyelesaikan 6 marathon besar dalam 8 tahun, kenapa tidak?

 

Ayo pulang dan bersiap latihan lagi!

***

Baca rangkaian Story of My Virgin Marathon at Tokyo Marathon di sini:

10 Langkah Pelari Bontot Menuju Finish Strong

This is it! Race Day!

42K Mengalahkan Diri Sendiri

One thought on “8 Hal Yang Bisa Kamu Lakukan Untuk Marathon Recovery – Story of My Virgin Marathon at Tokyo Marathon 2017

  1. Aku baca2 lagi seri Tokmarmu, mbak. Buat menyemangati diri sendiri, biar gak males mulai latihan buat Berlin. Edan eneg parah setelah Bali dan Jakmar, badanku kayak yang meolak diajakin lari. Hahaha. Kayak yang… aduuuuuh udah doooong bosen bosen bosen! Udah nyobain marathon kan. Jadi kayak yg ga ada lagi yg dikejar. Hhhhhhh…

    Terima kasih untuk inspirasinya. Besok-besok kalo kumat lagi malesnya, aku baca2 ini lagi hahahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *