42K Mengalahkan Diri Sendiri – Story of My Virgin Marathon at Tokyo Marathon 2017

Categories Others, Running
START!

STARTING LINE

Sudah sering baca kan ya. Tokyo Marathon adalah salah satu World Major Marathon Series tersulit untuk pelari pemula! Ini semua gara-gara Cut Of TIME (COT) yang super ketat per 5K! Jadi untuk pelari pelan seperti saya, ditempatkan di Starting Block K itu derita beneur.

 

 

09.10 GunTime! Dari lapangan bola kecil sebelah Tokyo Government Building menuju STARTING LINE sesungguhnya membutuhkan waktu… 20 menit! Gimana mau lewat COT dong ini???

Perjalanan jauh menuju Starting Line

 

5K-10K

Sudah tahu slow pacer. Biasa lari juga Pace 9. Kenapa dong sok ikutan Tokyo Marathon? Untungnya selama latihan bener. Saya sering menaklukkan jarak 20K Bahkan di minggu-minggu terakhir latihan saya terus menembus new Personal Best time untuk jarak ini.

 

Maka, strategi yang saya pakai adalah sbb: RUN SUPER STRONG the first 20K! Toh saya sudah tahu pasti, pasti akan keok di 22K selanjutnya! Mari mencuri waktu!

10:05:19 Saya berhasil melewati COT 5K 10:30.

10:45:30 Saya berhasil melewati COT 10K 11:00.

 

Kondisi bugar di kilometer awal ini sangat seru lho. Saya masih fresh dan siap high-five dengan semua supporter yang sibuk memberikan semangat sepanjang jalanan Tokyo! Penduduk Tokyo memang juara! Mereka tidak henti berteriak “Ganbare!” dan “Fighto!”.  Atraksi resmi yang seru juga bertebaran sepanjang 42K. Salah satu yang saya suka banget adalah saat melewat area dan band memainkan lagu YMCA! Kebayang gak semua pelari di depan saya dan penonton di pinggir jalan serta merta joget bareng YMCA! Flash mob on the street of Tokyo!

 

10K-15K

Bangga deh. Saya lolos check point selanjutnya.

11:26:33 Saya berhasil melewati COT 15K 11:40.

Sampai 15K saya  masih bisa lari cukup stabil dengan Pace 8. Also known as ‘pace gak diserok bus’. Waktu makin mepet. Saya cuma terpaut 15 menit dari COT. Saat putar balik saya pun melihat bus-bus kuning bergerak. Deg-degan parah deh.

 

 

Running with the Blind

 

Oya ada pemandangan mengharukan yang bikin saya semangat di awal lari ini. Saya banyak berpapasan dengan visually impaired runners – alias para pelari yang punya keterbatasan indra penglihatan. Jadi mereka berlari bersama seorang buddy.  DAN mereka lari lebih cepat dari saya! Orang tuna netra lari lebih cepat dari saya! Semakin semangat lah saya untuk memastikan bisa finish.

Hey ini bisa jadi ide bagus juga ya. Kalau saya sudah bisa lari dengan pace yang lebih stabil, saya bersedia jadi runner buddy teman-teman difabel tuna netra. Tolong catat niat saya ini. Semoga tercapai segera!

 

15K-20K

Saking takutnya gagal lolos COT, saya gak berani berhenti untuk photo-photo. Padahal di route ini banyak sekali gedung dan landmark keren. Sebut saja Asakusa temple, Tokyo Skytree dan Tokyo Central Station. Semuanya bikin mata terpesona.

 

Teman-teman saya bilang, saya akan bertemu ‘tembok’ dan keok di 30K! Eits! It came early! Baru 17K saya sudah berhenti lari! Aduh padahal belum juga setengah jalan. Kalau tadi saya lari Pace 8 artinya saya akan lari lebih lambat lagi nih. Saya segera mengganti strategi jadi run-walk seperti Galloway technique. Di setiap jembatan pun saya berusaha supaya lari lebih kencang saat jalanan menurun, lumayan dapat dorongan sedikit. Ngejar COT!

12:13:04 Saya berhasil melewati COT 20K 12:30. Mepet gila! Lumayan nambah jangka waktu dengan COT sampai 17menit.

 

20K-25K

“Ganbarre! Fighto!” begitu terus menerus diteriakkan penduduk Tokyo yang jadi supporter hari itu. Semangat mereka bikin saya semangat juga. Saya berpikir, “Ayo Win udah lewat setengah jalan kok. Pasti bisa! Jangan mau pulang DNF!”

 

12:59:30 Saya berhasil melewati COT 25K 13:20. Jarak waktu makin lebar dengan COT, hingga 21 menit. Saya makin percaya diri. BISA FINISH KALO GINI CARANYA!

Kami lari kembali menuju arah Asakusa. Ada sebuah TV raksasa di pojok jalan dan kami pelari bisa dadah-dadah ke diri sendiri saat melewati TV itu. Lumayan hiburan untuk kepala udah mumet lari lebih dari 3 jam kan!

 

25K-30K

Geng pelari bontot mulai berguguran.

Jarak antar pelari pun makin terasa kosong.

Ini 5K yang terasa panjang banget.

13:48:49 Saya makin terseok-seok tapi maju melewati COT 30K 13:55.

 

30K-35K

Lewat 30K ini seperti masuk ke titik psikologis. Kalau saya lewatin in dengan baik, saya akan baik-baik saja. Lalu di 31K kaki saya kram! Tidaaaaak! Masa gagal setelah lari selama ini?

Dari awal saya sadar lutut kiri saya lemah. Jadi kalau lari jarak jauh suka sakit. Nah selama latihan long run, lutut kiri saya bebat. Sampai 30K pun lutut ini gak bermasalah. Yang saya gak bisa kendalikan adalah kram karena kedinginan. Kejadian di 31K ini kram pada otot paha di bagian atas lutut, KIRI dan KANAN! Jalan aja sakit. Saya pingin nangis!

 

Lalu dari kejauhan saya lihat ada supporter melambaikan gak 1, gak 2, tapi 3 botol spray Salonpas! Cepat-cepat saya mendekatinya dan asbun ngomong pakai bahasa Jepang,

“Sumimasen! Suprayto des?”

Mas-mas Jepang pun dengan girang menyambut saya, “Haik!” Lalu dia sibuk membantu saya menyemprotkan spray Salonpas ini ke sekitar otot yang kram.

 

Malaikat penolongku. Saya lupa nanya namanya saking terlalu gembira. Penuh haru saya membukuk hormat, “Arigato gozaimas!” Dan si Mas-mas cerita langsung membalas, “Gambarre!!!”

Saya melanjutkan lari dengan lebih ringan. Perlahan-lahan kram itu hilang dan saya bisa berlari lagi! Target saya, melewati 35K harus tercapai. Hitungan saya, ada banyak waktu tersisa antara COT 35K dengan Finish Line.

 

Jangan sampai diserok bus kuning ya!

Dalam perjalanan saya berjabat tangan dengan Sheila dari Irlandia. Cewek bule ini ketawa pas saya cerita saya biasa latihan di suhu 30C. Makanya saya tadi kram karena suhu Tokyo hari itu antara 5C-8C. Sheila ketawa karena di negara asalnya, dia latihan dengan suhu 2C. Oh sama-sama menderita dong kita neyk!

 

Hey jangan ngobrol aja, lihat tuh bus kuning sudah mulai kelihatan lagi! Seorang supporter Jepang melambaikan poster pengingat COT di kilometer berikut. Ini kenapa baik-baik banget sih orang jadi supporter?

 

35K-42K

Duar! Akhirnya lewat juga  COT 35K 14:40:40 dari target 15:30. Saya sekarang punya banyak waktu untuk lebih santai mencapai finish. Di sini saya bertemu Mamat, pelari Indonesia asal Tangerang. Dia kelihatan banget orang Indonesia karena pakai ikat kepala kain batik. Kami ngobrol-ngobrol santai sok cool padahal sama-sama menahan cape dan sakit kaki. Mamat melanjutkan larinya sementara saya memutuskan jalan lebih lama.

 

Runners behind me

 

Di 1K terakhir jalan berubah menjadi paving blocks. Saya  mengenali jalan ini sudah sangat dekat ke garis finish seperti di video yang ditampilkan situs Tokyo Marathon. Hore sedikit lagi! Supporter masih antusias memberikan semangat. Mereka meminta high-five sepanjang jalan menuju Finish.

 

Lihat video rute Tokyo Marathon 2017 di sini!

 

FINISH LINE!

Cuma tersisa 10 menit sebelum finish line dibubarkan! Hahahhahahah.

Aduh lega banget. Bersama pelari bontot lainnya, kami anti klimaks memasuk garis akhir.

Saya sempat mikir, pingsan gak nih? Ternyata gak. Endorphine kicked in. Saya gak bisa berhenti cengengesan! Udara dingin gak terasa. Tanpa riuh rendah histeria seperti finish Half Marathon di Jakarta, finish Tokyo Marathon ini gak ada supporternya. Isinya cuma pelari-pelari yang masih gak percaya bisa menyelesaikan 42K. Apalagi batch saya isinya pelari bontot semua kan.

 

Penuh senyum di garis finish! OFFICIALLY A MARATHONER! Yatta!

 

 

Setelah minta tolong orang gak kenal untuk photo di Finish Line, saya diusir volunteer untuk bergerak mengambil goodiebags.

 

 

Ini medaliku!

This shall not be my Personal Best. But this will forever be my very first, my virgin marathon experience.

16:00:12 FINISH.

Split 06:50:12.

Net time 06:32:06.

Lama banget finish-nya. Bontot dalam arti sesungguhnya. Tapi finish lho!

Officially a marathoner!

 

Alhamdulillah. Terima kasih Ya Allah. Finish tuh rasanya kayak gini.

***

Baca juga 10 langkah pelari bontot menuju Finish.

Baca Persiapan Hari H di sini.

2 thoughts on “42K Mengalahkan Diri Sendiri – Story of My Virgin Marathon at Tokyo Marathon 2017

  1. KEREN BANGET MBAK WINAAAA..

    Ikut deg-degan di bagian kram kaki dan minta salonpas. Lalu ikut berkaca-kaca haru pas cerita di garis finish.

    Duh mbak, aku finis 10k aja nangis lah gimana rasanya finish marathon.

    1. Naaaad! Bukan jarak tamasya ini! Setelah finish, merasa jagoan, lalu baru sadar itu larinya hampir 7 jam hahahah. Bontot abis. It means next time, I should target Sub6, then Sub5, before I can achieve Marathon Sub4. Sepertinya perlu menurunkan berat badan 10kg lagi * dang *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *