10 Langkah Pelari Bontot Menuju Finish Strong – Story of My Virgin Marathon at Tokyo Marathon 2017

Categories Running, Travel + 3 Kids

Sebagai pelari Pace 9 (Iya gila gak sih Pace 9 nekad ikut marathon) gimana caranya coba mau menembus Tokyo Marathon! Not just any marathon! Just happens to be the one Abbott’s World Major Marathon Series with cut of time every 5K! Kenyataannya saya berhasil menggapai mimpi itu dengan 10 langkah berikut ini.

1. DAFTAR DULU

Jadi ceritanya, suami saya gak pernah mau nganterin kalau saya ikutan race yang harus pake pesawat terbang. Sekali sih pernah – Half Marathon di Singapura, that’s it. HM sisanya di Jakarta, Bumi Serpong Damai dan Alam Sutera. Maka untuk ikut Tokyo Marathon ini saya gak bilang hahahahah. Saya DAFTAR aja dulu! :p

Ada namaku!

 

 

Sebagai catatan, Tokyo Marathon ini adalah bagian dari 6 serial Abbott’s World Major Marathon – bersama London, Berlin, Chicago, New York dan yang ori Boston. Jadi ini bukan sekadar Marathon ini Serial bergengsi WMM! Untuk bisa ikut Tokyo Marathon, saya harus DAFTAR dulu – setelah itu tunggu hasil lotere. Saking banyaknya yang daftar di setiap WMM, ada undian random untuk menentukan siapa yang bisa ikut acara lelarian dunia ini.

Eh berhasil dapat lotere! Alhamdulillah! Baru saya lapor suami dan dia ketawa sejadi-jadinya.

 

2. BOOKING TIKET, CARI AKOMODASI, BIKIN VISA

Setelah terbukti dalam email panitia bahwa saya terdaftar sebagai pelari, kami mulai mencari tiket. Hore ada travel fair! Harga tiket Jakarta-Tokyo pp yang biasanya antara Rp5.000.000 – Rp6.500.000 bisa turun hingga sekitar Rp3.200.000 per orang. Per orang? Iya kami memutuskan bawa 3 anak ke Tokyo sekalian liburan.

Hore menuju Tokyo!

Untuk akomodasi kami memilih AirBnB dengan kapasitas kamar ala kadar tapi gak perlu pisah kamar seperti di hotel. Dengan begitu Hanantos 5 bisa tidur sekamar dan urusan Mamah jadi lebih mudah. Lokasi pun kami pilih yang gak jauh dari STARTING LINE. Pilihan jadi di area yang dekat dengan Shinjuku – akhirnya menemukan apartemen di area bernama Yoyogi.

Visa Jepang cukup simpel lho. Untuk Ayah dan Si Ade, harus apply visa tersendiri dan bayar. Sementara saya, Si Mas dan si Kakak sudah punya e-paspor jadi hanya perlu isi formulir, dapat waiver, visanya gratis dan langsung jadi bisa diambil H+1. Mengurus visa Jepang ini gampang aja, tinggal pergi ke Kedutaan Besar Jepang di Jl. Thamrin,  Jakarta. Pastikan datang rada pagi supaya antrian gak panjang dan dokumen lengkap semua termasuk pas photo.

 

3. CEK KESEHATAN

Gak usah gaya-gayaan. Saya mulai lari sekitar tahun 2013. From couch to 10K. Itu pun disponsorin Milo – dikasih trainer dan nutritionist. Setelah itu saya lari on and off sampai bisa ikut 4 x race Half Marathon. Jadi ini bukan sok iye tiba-tiba ikut marathon karena ingin keren.

Nasihat terbaik di komunitas lari adalah “Marathon bukan jarak tamasya!”

42K itu jarak yang sangat jauh dan pasti menimbulkan efek cidera sekecil apapun. Oleh karena itu, saya gak rekomen teman-teman sok ikutan Marathon ya! Kalau gak biasa lari, biasain lari dulu. Saya sudah lari 4 tahun, tidak ada asthma, tidak punya tekanan darah tinggi, tidak menderita diabetes dan tidak ada masalah jantung.

Masalah kesehatan saya cuma satu: saya overweight! Tinggi saya cuma 150cm berat badan di awal 2016 adalah 68kg. Hadapi kenyataannya kalau ini overweight! Saya over PD dan gak merasa gendut itu masalah hidup. Tapi untuk bisa lari lebih dari 10K, kasihan banget lutut saya harus menanggung berat badan ini! Jadi saya pun harus menurunkan berat badan untuk bisa finish 42K dengan enteng!

 

4. TRAINING PLAN

Gym favoritku: Ways-To-Fit Pondok Indah

Kata Melanie Putria, “Teh Wina! L A T I H A N!”

Jadi jangan anggap remeh. Saya harus betul-betul siap untuk berhadapan dengan route lari 42K ini. Awalnya saya googling saja nyari training plan sendiri. Banyak kok tinggal nyontek. Saya juga banyak nanya sama teman-teman pelari mulai dari Acha Wahid, Arlan Aziz dan Riefa Istamar.

Training plan saya kira-kira terdiri dari struktur sederhana seperti ini:

  • Lari 2 x seminggu
  • Core & Strength Training 2 x seminggu (Saya suka ke Ways-To-Fit di Pondok Indah atau Carport di Kemang)
  • Renang 1 x seminggu
  • Long Run 1 x seminggu
  • Rest day 1 x seminggu

Enak sih latihan sendiri juga bisa. Tapi saya merasa gak terukur. Saya juga gak tahu bagian mana yang harus dibenerin. Setelah berminggu-minggu latihan sendiri, akhirnya saya pun mencari Coach.

 

5. CARI COACH

Kan sudah saya bilang, untuk bisa 10K aja pake coach – apalagi 42K!

Saya amatir. Saya bukan atlet profesional. Saya pun kembali ke Mas Adri, Coach yang bagaikan pawang sudah berhasil menyulap saya dari si pemalas menjadi pelari 10K bersama Milo di 2013. 4 tahun kemudian Mas Adri pegang saya lagi dan memperbaiki banyak hal dalam diri saya.

Coach Adri si Pawang

8 minggu terakhir, saya digembleng bersama Mas Adri dengan Training Plan yang ketat. Bukan saja lari tapi juga urusan core dan strength training. Yang terpenting juga soal: M E N T A L.

“Win! Ingat umur!”

“Win! Jangan kecepetan. Asam laktat naik tuh!”

“Win! Lo yang butuh gue ya lo yang datang lah!”

Keribetan hidup saya antara kerja dengan latihan pun terus terjadi. Mas Adri gak mau tahu. Di awal minggu dia akan kirim training plan yang harus saya lakukan. Bahkan saat saya harus tugas ke Papua, Mas Adri lempeng aja nanyain “Win! Udah lari berapa kilo hari ini?”

Mas Adri bantu saya kenal lagi dengan badan sendiri dan mencapai peak training pada waktunya.

 

6. PUNYA SUPPORT SYSTEM

Saat latihan itu, isi kepala cuma mau lari – lari – lari.

Jam 5 pagi udah lari, terus anak-anak sekolahnya gimana?

Eh pagi hujan, lari digeser ke sore. Kan musti ngantor?

Long run yang aman di mana ya? Jalanan Jakarta bukan rute ideal lho.

Nah keribetan hidup tetap harus berlanjut saat latihan lagi ketat banget. Maka orang-orang keren sekitar hidup saya yang berjasa banget mendukung terlaksananya latihan. Suami, 3 anak, MbakSquad, supir, ortu, mertua, anak-anak kantor sampai klien yang selalu sabar berhadapan dengan saya menggeret koper berisi baju dan sepatu lari.

Sampai ada tim sebuah bank yang standby menjaga koper berisi running gear ini saat saya harus bertugas menghadiri sebuah acara macroeconomic outlook! Aduh  makasih banget ya pengertiannya terhadap ibu-ibu rempong ini hihihi.

 

7. GEGAP GEMPITA MEDIA SOSIAL

Iya. Sengaja banget!

Saya terus menerus posting tentang latihan menuju virgin marathon ini.

Di semua platform. Facebook, Twitter, Path, Instagram. Kenapa? Supaya saya – kalau lagi lari dan mulai putus asa mau quit – jadi  malu! Ih gila udah posting ke mana-mana masa status marathon-nya DNF (Did Not Finish)?

Walhasil keriaan lelarian ini gak kelar-kelar. Mungkin ada yang KZL. Tapi kebanyakan mah kasih semangat dan ikut ngetawain kehebohan yang saya ciptakan pada diri sendiri ini.

Mas Willy, Venita, Inre bahkan menyempatkan diri untuk lari bareng di salah satu pagi nan mendung di Parkir Timur Senayan.

Ika sibuk janjian depan McD Kemang demi bisa lari bareng jam 5 pagi!

Audrey sampai memperkenalkan saya pada Jen – trainer jagoan kami di Ways-To-Fit yang akhirnya bikin saya ketagihan latihan di sana.

Novy gak kapok-kapok nanyain kapan saya ikut latihan lagi di gym favorit kami Carport atau di Ways-To-Fit.

Alhamdulillah seru. Gegap gempita media sosial ini manjur bikin saya lari terus pantang nyerah.

 

8. URUSAN MAKANAN

Makan sayur!

I don’t know about you but my problem is how I eat.

Orang mah ketagihan nikotin, alkohol, heroin, utang kartu kredit. Saya kebal semua itu. Ketagihan saya adalah ketagihan GULA! Yup ternyata ngaco banget cara makan saya selama ini. Dan tadi sudah saya ceritakan bagaimana saya ini overweight untuk ukuran marathoner, maka saya harus menurunkan berat badan. Lari 4 tahun terakhir gak bantu turunkan berat badan. Asupan makanan yang akan bantu saya menurunkan berat badan.

Beruntung sekali saya punya sahabat yang sakti mandraguna bernama dr. Grace Judio Kahl. Grace dan klinik Lighthouse membantu saya menurunkan berat badan! Ini kayak iklan ya! Tapi serius beneran. Berat badan saya awalnya 68kg, sehari sebelum RACE DAY berat badan saya tinggal 59kg. Saya belajar mengatur kebutuhan karbohidrat, protein dan serat. Saya juga belajar memilih makanan agar asupan kalori sesuai kebutuhan, bukan cuma lapar mata lelah hayati!

Efek urusan berat badan ini berakibat pace lari saya pun membaik. Dari pelari Pace 9, saya berhasil lari lebih cepat jadi Pace 6-7. Sungguh magis!

 

9. SIAPKAN GEAR!

Sepatu lari yang setiap menemani selama 3 tahun terakhir akhirnya jebol.

Waaaaaks! Jangan sampai saya lari dengan sepatu yang belum berpelukan dengan kaki dong. Akhirnya pilihan jatuh pada Mizuno Wave Inspire. Model yang sama dengan si sepatu lama yang berhasil menghantarkan saya lari HM selama ini.

Baju lari pun saya pilih celana, kaos tangan panjang, kaos tangan pendek dan kerudung yang paling nyaman. Oiya saya punya kerudung biru polkadot kesayangan yang paling sering saya pakai di race yang penting-penting.

Gear lain adalah jam tangan GARMIN – sukses dicariin sama Mas Adri. Tas pinggang untuk bawa pocket wifi, energy gel dan salt tablet. Gak ketinggalan handphone case yang bisa melingkar di lengan biar gak ribet.

Di Jakarta saya biasa bawa handuk untuk lap keringat. Tokyo bakalan dingin. Keringat gak terasa menetes seperti Jakarta, jadi saya gak bawa handuk tapi siapin juga jaket. Berlapis deh pokoknya.

Ah yes yang terakhir maha penting! Untuk perempuan jangan lupa pakaian dalam olah raga harus OK! (Tanpa OCE :p). Pakaian dalam yang salah akan berakibat cidera tali beha yang sakit banget!

 

10. STRATEGI LARI

Kamu pelari kayak apa?

Saya pelari pelan biasa lari Pace 9!

Bahkan saat lari paling kencang pun Pace 6 gak bisa bertahan lama.

Yang menarik selama latihan, minggu-minggu terakhir itu saya terus membukukan new Personal Best record untuk 20K. Jadi saya cukup PD bisa lari 20K dengan super strong. Tapi selalu selepas 30K saya keok parah. Jadi sebelum berangkat ke Tokyo pun saya sudah tahu, PASTI sesudah 30K saya akan terseok-seok.

Maka strategi yang saya pake sederhana aja:

  • lari sekencang mungkin untuk 20K pertama
  • pastikan melewati semua cut off time di 20K pertama
  • punya waktu extra 20-30 menit lebih cepat dari setiap cut off time
  • bisa santai dari 30K sampai finish!

Demikian 10 langkah si pelari bontot mencapai Tokyo Marathon Finisher. Edyan! Berhasil!

Lanjutin baca yah! Ada tentang persiapan pada Hari H, ada cerita sepanjang 42K dan tentu saja ada juga cerita Recovery!

 

Semoga cerita Virgin Marathon ini membantu kamu juga mencapai cita-citamu sebagai pelari.

Eh gak harus ikutan marathon lho. Ingat, ini bukan jarak tamasya! 🙂

 

7 thoughts on “10 Langkah Pelari Bontot Menuju Finish Strong – Story of My Virgin Marathon at Tokyo Marathon 2017

  1. akhirnya tayang jugaaa! entah napa, ikutan nervous ngikutin perjalanan Tokmar-mu ini, NengWin. mungkin karena saya ge berencana virgin marathon di MBM taun ini. PR terbesar saya adalah si nomor 8 di artikel ini :)). dan rasa malas yang bikin ada ajaaaa alesan untuk ga latian >_<. tapi saya tau, 42k bukan jarak main-main. setelah baca ini, … nyaan ieu mah kudu setrong latian + atur asupan gizi. semoga saya berhasil menjalani ini semua :D.

  2. Dari semua tulisan yang TokMar Series, paling suka yang ini! Hahahaha seru heboh penuh perjuangan ya maaaak :))

    Congratulations, mbak Wina! Mudah2an taun depan bisa berangkat Tokmar juga. Semoga dapet lotere. Amiiiiin 😀

    1. Mbaaaaak! Senangnya blog aku ada yang baca!!! Wakakakak norak newbie blogger gini nih. Ada yang lebih seru Mbak! Nagoya Women’s Marathon! Di finish line ada cowok2 pakai tuxedo menanti sambil bawa Tiffany blue box! Seriously!

  3. Mbak aku bacanya kaya deg degan. Berasa lagi kaya dirimu yang lagi persiapan!

    Hebat banget mba! Aku lg butuh bacaan inspiring ky gini soalnya dihantam badai ga pede pasca persalinan (udah setaun masih gini2 aja). Semoga aku juga jadi finisher dalam hal tekad #kembalisingsetsehat2017

  4. Ya ampuuun… seneng banget Ligwina Hananto akhirnya punya blog. Baru tau, walo udah telat tetep gembira banget.
    Dulu pertama kali tau web.nya qm langsung bacain semua tulisan Wina sampe abis. Habis itu selalu nungguin artikel yg ditulis. Dan, harapan bisa baca tulisan lain di blog, akhirnya terwujud bertahun kemudian. Maap lebay, saking demenlah sama gayamu. Mau ngomong di radio apa nulis, sama, suka saya.
    Semoga tambah sukses ya, Mrshananto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *